Penangkal Selingkuh

Dalam Perjanjian Lama, Musa naik ke gunung dan sewaktu turun didapatinya bangsa Israel malah sedang giat menyembah berhala. Dalam Perjanjian Baru, Yesus naik gunung dan setelah turun gunung lalu memilih murid-murid, yang salah satunya menjadi pengkhianat. Baik Musa maupun Yesus mengalami perselingkuhan manusia terhadap kemurahan hati Allah sendiri.

Perselingkuhan terhadap kemurahan hati Allah tidak memengaruhi bela rasa Allah. Ia tetap Allah yang maharahim, entah manusia setia atau tidak. Ia senantiasa sanggup menyatakan, “Aku akan menaruh belas kasihan terhadap kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa-dosa mereka.”

Sedangkan mengenai perselingkuhan terhadap manusia, jangan tanya bagaimana rasanya orang yang diselingkuhi! Sekali dua kali ia mungkin masih bisa mengampuni dan tidak lagi mengingat dosa orang yang berkhianat. Akan tetapi, kiranya manusia punya batas dalam pengampunannya terhadap para pengkhianat dan toh biar bagaimanapun, perselingkuhan itu memiliki dampak destruktif bagi orang yang diselingkuhi.

Bagaimana menangkal perselingkuhan?

Gampang skale’. Jangan bikin komitmen! Yeee, itu mah bukan menangkal namanya.

Yang bisa dibuat orang hanyalah pengembangan komunikasi untuk memperkokoh komitmen. Akan tetapi, bahkan komunikasi toh bukan jaminan mutlak. Dalam diri orang tetap ada kualitas Yudas Iskariot, seberapapun kadarnya, plus roh-roh penggoda yang berupaya membelokkan orang dari komitmennya. Artinya, potensi itu sewaktu-waktu bisa jadi nyata dan yang diperlukan hanyalah pengampunan. Akan tetapi, pengampunan total pun bahkan tidak identik dengan mempertahankan komitmen. Jadi gimana dong?

Yang paling safe sebenarnya ialah meletakkan komitmen dengan manusia dalam kerangka komitmen dengan yang ilahi sendiri. Mangsudnya? Kita berlagak seperti Allah yang maharahim begitu? Bukan! Justru karena kita ini manusia, maka fokus yang pokok ialah relasi dengan Allah sendiri: baik A dan B sama-sama punya target berelasi dengan Allah. Dalam pencapaian target itu, A dan B bisa saja membuat komitmen sebagai suami istri, misalnya. Tetapi, fokusnya tetap bahwa mereka menjalin relasi dengan Allah. Dalam teks Kristen bunyinya: carilah dulu Kerajaan Allah, yang lain-lainnya bakal nyusul.

Lha, kalau salah satu selingkuh, sebetulnya yang diselingkuhi adalah relasi A/B dengan Allah sendiri, dengan orientasi mencari ‘Kerajaan Allah’ tadi. A dan B butuh tobat dan pengampunan (entah perkawinan bertahan atau tidak) yang memungkinkan mereka mereorientasi pencarian ‘Kerajaan Allah’ itu.


JUMAT BIASA II B/1
23 Januari 2015

Ibr 8,6-13
Mrk 3,13-19

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s