Yesus Rada-rada Munafik?

Kalau ada kecelakaan lalu lintas dan jalanan jadi macet, seringkali kemacetan itu tidak disebabkan oleh kecelakaannya sendiri, melainkan oleh banyaknya pengendara kendaraan lain yang kepo dan mau melihat langsung apa yang terjadi di tepi jalan. Orang ingin melihat suatu kejadian yang heboh!

Itu juga yang dialami Yesus akibat mukjizat-mukjizatnya. Orang mencarinya, bahkan dalam arti tertentu memburunya. Orang ingin melihat sosok yang telah melakukan hal yang menghebohkan. Yang lain lagi berharap tindakan menghebohkan itu juga bisa mereka alami sendiri.

Kepo pertama murni soal curiosity dan bikin macet jalanan. Kepo kedua juga bikin macet, tapi orang-orang yang kepo itu tergerak untuk mengalami perjumpaan dengan pribadi dan dampaknya terhadap kehidupan mereka. Lha iyalah, mosok orang rame-rame nonton kecelakaan dengan harapan mengalami kecelakaan juga!

Menariknya, Yesus itu menyampaikan larangan yang sama dengan larangan sebelumnya: ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa dia. Yesus ini mau merendahkan diri menaikkan mutu atau gimana ya maksudnya? Bahkan roh jahat yang merasuki orang saja menyatakan bahwa Yesus adalah anak Allah. Mosok orang-orang gak boleh mewartakan identitas Yesus tersebut?

Ada dua alasan. Alasan pertama, yang menyatakan identitas itu adalah roh jahat. Lha, kalo roh jahat menyodorkan sesuatu yang baik, itu tak pernah benar-benar baik. Pasti ujung-ujungnya jahat. Kalau awal dan akhirnya baik mah berarti bukan roh jahat lagi namanya! Kok bisa, “akhirnya jahat” itu seperti apa toh wong yang dinyatakan sesuatu yang baik kok? Ini menunjuk pada alasan kedua.

Soalnya bukan bahwa identitas “anak Allah” itu gak betul; juga bukan soal Yesus rada munafik dengan merendah-rendah bahwa dia bukan anak Allah itu, melainkan bahwa atribut itu belum dipahami oleh orang banyak sehingga malah bisa semakin tersesat oleh pewartaan roh jahat itu. Orang banyak memang menanti-nantikan kedatangan anak Allah, yang adalah Mesias itu. Akan tetapi, dengan aneka kehebohan itu, orang banyak cenderung menyimpulkan bahwa Mesias adalah sosok penyelamat yang membebaskan mereka pertama-tama dari situasi penjajahan bangsa Romawi.

Padahal, Yesus gak pernah kepikiran jadi pejuang kemerdekaan seperti itu. Anak Allah mengundang orang untuk membebaskan diri dari belenggu dosa, entah sedang dipenjara atau bebas bebas bersyarat, atau menyongsong hukuman mati sekalipun. Itu yang dicontohkannya sewaktu di salib.


KAMIS BIASA II B/1
22 Januari 2015

Ibr 7,25-8,6
Mrk 3,7-12

1 reply

  1. Ooo… Maksudnya supaya orang-orang tetap melihat esensi misi Yesus sebenarnya? Bahwa akhirnya harus ada penebusan dosa, pertobatan, pengampunan dosa? (Dan bukannya yang lain2, berharap Tuhan segera sulap menyelesaikan masalah..)

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s