Allah esa kok dibilang tiga gimana sih bro’?

Ada pertanyaan kritis yang tak saya duga muncul dari seorang mahasiswa ketika saya memberi sedikit materi mengenai who am I. Sebenarnya sih ini materi spiritualitas, tetapi memang sejak awal sudah saya introduksi dulu bahwa orang gak bisa mengenali Allah kalau ia gak mengenali dirinya sendiri. Ini gak berarti bahwa diri kita adalah Allah. Justru sebaliknya, karena kita ini ciptaan Allah, ya masuklah ke dalam misteri ciptaan-Nya itu untuk mengenali Penciptanya.

Lha, penjelasan saya standar saja dengan memakai bagan lingkaran ‘aku sebagai subjek’ dan ‘aku sebagai objek’ (apa saja yang bisa kuamati, kumiliki, kuinginkan), atau I dan me (atau mine, my) sebagaimana saya tuliskan panjang lebar pada buku Saat Tuhan Tiada.

ConditioningDalam pandangan Kristen, Allah menciptakan manusia seturut gambar, rupa, ikon Allah (Kej 1,26). Itulah yang ada di tengah lingkaran sebagai AKU. Lha, AKU ini dalam sejarah perkembangan orang pastilah dipengaruhi oleh lingkaran-lingkaran luar sehingga orang punya cara merasa, melihat, berpikir secara tertentu sesuai dengan yang diperolehnya sejak kecil.

Sampai di situ, mahasiswa ini tentu paham bahwa kalau orang berkomentar: “Bajumu bagus” itu sama sekali bukan penilaian mengenai diri seseorang. Itu adalah penilaian mengenai baju, yang memang dipilih atau dipakai oleh orang itu, tetapi jelas bukan kualitas ‘AKU’. Sama halnya kalau orang mengkritik “Kamu bodoh!”, yang dikomentari sebenarnya bukan “AKU”, melainkan cara berpikir yang “AKU” miliki. Tapi untuk anak zaman sekarang mungkin pembedaan ini gak masuk akal lagi; pokoknya lu ngejek babe gue, gue bacok muka lu! Anak SD sekarang mungkin bisa membunuh temannya karena baju seragamnya dikomentari baju kampung…

Dengan bagan itu, orang bisa mengerti bahwa aneka penilaian orang lain pertama-tama berkenaan dengan lingkaran luar “AKU”; jadi sebetulnya sudah ada filter ganda: (1) cara pandang yang dimiliki si penilai atau komentator sendiri dan (2) penampakan, penampilan luar dari “AKU” yang dinilai. Jadi sebetulnya aneh kalau orang dianggap gak mutu lalu menganggap dirinya benar-benar gak mutu. Bukankah yang dinilai hanya sebagian kecil saja dari tindakan atau perkataan kita yang gak mutu? Mengapa mesti menerima komentar seperti itu sebagai penilaian terhadap keseluruhan dirinya? (Bdk. Eh… mobil kamu keren…mobilnya, kamunya sih ancur!)

Pertanyaan mahasiswa itu begini: kalau apa saja yang bisa diobjekkan tadi adalah bagian “me” bukankah itu tetap terhubung dengan “I”? Saya jawab positif: betul. Apa bukannya orang jadi gak punya perasaan kalau dikomentari ini itu dan gak punya reaksi? Hmm…kayaknya tadi saya gak bilang orang gak boleh merasa senang atau sedih dll deh.
Orang boleh senang dipuji, tentu saja, tetapi kelirulah ia kalau menganggap pujian itu sebagai penilaian “AKU”, yang dipuji adalah penampilan atau unsur luar “AKU”. Karena itu, orang tentu saja sah punya perasaan kecewa atau sedih atau gembira, tetapi tanggapan atau tindakannya tak perlu dikuasai oleh aneka perasaan tadi! Manusia punya kebebasan kan, maka sebelum bertindak tentu ada aneka pilihan respon yang tidak bisa hanya didasarkan pada perasaan. Dibutuhkan pembebasan “AKU” dari aneka dominasi lingkaran luar tadi.

Hmmm…pertanyaan berikutnya, saya sulit menjawab: kalau “me” tadi terhubung dengan “I“, lalu “I” terhubung dengan apa ya? Saya susah menjawab karena saya pikir mahasiswa ini tentu tidak belajar filsafat atau metafisika, tepatnya. Tetapi, tampaknya dia mau segera mengambil kesimpulan bahwa “I” itu terhubung dengan Tuhan. Ya sebetulnya tidak sesederhana itu, tetapi saya pun tidak bisa memberi penjelasan sederhana bahwa “Sang Pengada” itu tidak harus berarti Tuhan, karena Tuhan melampaui ruang-waktu. Tapi sudahlah, andaikan saja “I” yang paling awali itu adalah Tuhan, maka memang bisa dibilang “I” itu tempat connect-nya “AKU” dan Tuhan. Itu mengapa kalau orang mau mengenal Tuhan, ia mesti masuk ke dalam dirinya. Dalam arti itu, lagu Bimbo bisa ditempatkan: Aku dekat Engkau dekat, aku jauh Engkau jauh.

Lha, kalau begitu, Yesus itu ya memang sama dengan semua orang lain: ia diciptakan serupa, segambar, seikon dengan Allah. Nah, kalau sama dengan semua orang, kok bisa-bisanya dia disebut Tuhan? Apa ini bukan sesat?
Lha orang jawa malah nyebut orang “gusti kanjeng”, “gusti prabu”, mau diterjemahkan gimana dalam bahasa Indonesia? Terlepas dari soal terjemahan, meskipun Yesus sama dengan manusia lainnya, ia ternyata mampu melepaskan “AKU” dari aneka kelekatan lingkaran luar tadi. Yang paling signifikan ialah bahwa ia tidak dipengaruhi oleh kematian (karena ia bangkit dari mati; kalau tidak, semua omongan tentang Kristus adalah omong kosong). Ia bisa menunjukkan “AKU” yang sesungguhnya tanpa hambatan lingkaran luar: aneka conditioning masyarakat. Ia bisa menyalurkan energi dari dalam dirinya secara sempurna. Kerohaniannya menyeruak dan mengusir kekuatan jahat, penyakit dari banyak orang bahkan sakit fisik.

Earth layersSeterusnya, ia mengutus Roh-Nya setelah kesatuan dengan “I” (sempurna), pencipta semesta ini. Ke mana Roh diutus? Ya kemana lagi kalau bukan ke dalam “I“? (Roh yang memungkinkan orang menangkap hal ini juga…)

Jadi, sebetulnya “I” itu tadi ya satu dan sama tapi sekaligus secara signifikan beda antara Sang Pencipta, Gusti Yesus, dan Roh Kudus, bukan? Lha piye… sama tapi beda, beda tapi sama je… orang Kristen tidak mengatakan bahwa Gusti Yesus itu Sang Pencipta (yang di seluruh dunia disebut sebagai Allah atau Tuhan), wong dia sendiri memanggil Allah Pencipta itu sebagai Bapa (kata ini pun maknanya njelimet), jadi ya beda.

Ujung-ujungnya sih yang penting penghayatannya: hanya karena dorongan Roh-lah orang bersama Yesus Kristus bergerak menuju Allah Bapa. Artinya, orang toh mesti masuk ke kedalaman dirinya, ke dalam Roh (yang bukan roh gentayangan ala gaib-gaiban), meneladan Kristus untuk mengabdi Allah…