Berjudi dengan Kehidupan?

Kadang bisa terjadi suatu pilihan dibuat seperti sebuah perjudian: dengan melempar dadu atau menyerahkan keputusan pada binatang. Santo Ignasius pernah mengalami yang kedua ini: ketika ia sangat marah terhadap penghinaan orang Mor terhadap Bunda Maria, ia menyerahkan keputusan kepada keledai yang ditungganginya. Maksudnya? Kalau keledai ini di persimpangan jalan memilih jalan yang ditempuh orang Mor itu, dia akan mengejar orang Mor dan membunuhnya; jika ia mengambil jalan ke arah Montserrat, ia akan meneruskan perjalanannya ke Montserrat!

Persimpangan2Petrus dan para rasul memilih pengganti Yudas Iskariot juga dengan cara membuang undi: antara Matias dan  Barsabas. Akan tetapi, mereka tidak bisa disebut bermain judi karena sudah mengantongi prosedur yang dibutuhkan dalam melakukan pemilihan: membuat kriteria yang wajar untuk menggantikan posisi Yudas Iskariot dan mencari orang yang memenuhi kriteria itu. Kriterianya ialah bahwa pengganti Yudas Iskariot itu ialah dia yang senantiasa berkumpul dengan murid lain bersama Yesus sejak baptisannya sampai diangkatnya ke surga. Yang memenuhi kriteria itu adalah dua orang itu. Mungkin ada screening sedikit, tetapi yang jelas para rasul menyerahkan keputusan akhir melalui doa penyerahan kepada Tuhan (sebagaimana Ignatius juga berdoa sebelum pasrah atas apa yang dibuat keledainya). Hasilnya, Matias terpilih: karunia dari Allah, itulah arti nama Matias.

Sebetulnya, kalau yang terpilih Barsabas pun, ia juga menjadi karunia Allah bagi kumpulan para rasul meskipun namanya tidak berarti “karunia dari Allah”. Para rasul sudah mengambil tanggung jawab untuk memilih kriteria dan siapapun orang yang memenuhi kriteria itu toh adalah karunia dari Allah karena memang itulah yang mereka mohon kepada Tuhan. Di sinilah letak perbedaan antara berjudi dengan kehidupan dan berelasi dengan Tuhan. Orang tetap melibatkan seluruh daya manusiawinya untuk membuat pertimbangan, menghitung-hitung risiko, mengantisipasi langkah, kemudian mohon berkat Tuhan supaya pilihan apapun yang kemudian diambil tetap dalam track yang menjamin relasinya dengan Tuhan sendiri.

Meskipun semua tokoh besar mengajarkan cinta kasih, Yesus memberi mandat yang begitu khas: hendaklah kamu saling mengasihi seperti Aku mengasihi kamu. Lha ini yang berat, bagaimana membuktikannya:

  • Siapa yang mau memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya?
  • Siapa yang mau sungguh-sungguh menyebut sahabat lebih dari sekadar a friend in need is a friend indeed? Siapa yang sungguh memperlakukan orang lain sebagai sahabat dan bukan memperalatnya? Mungkin kebanyakan relasi tetap tinggal dalam level bisnis saling memanfaatkan.
  • Siapa yang mau secara bebas membuka dirinya mengenai imannya kepada Allah Bapa? Bisa jadi orang tidak berani masuk ke kedalaman relasi dengan Tuhan karena aneka ketakutan atau keengganan.
  • Siapa yang memilih teman sungguh-sungguh supaya temannya bertumbuh dalam pewartaan iman kepada Allah sendiri?

Yesus sih sudah membuktikannya. Ia tidak berjudi dengan kehidupan. Ia menjalani kerasnya hidup bersama Tuhan. Cocoklah ia menjadi keledai Ignasius: ia tidak memilih kekerasan untuk menghadapi kekerasan hati orang Mor, melainkan memilih jalan penyerahan kepada Tuhan di Montserrat.


Pesta Wajib Santo Matias Rasul
(Rabu Paska IV)
14 Mei 2014

Kis 1,15-17.20-26
Yoh 15,9-17

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s