Menolak Lupa

Memang ada orang yang mengingat-ingat masa lalu dan hidupnya gak maju-maju; istilah kerennya kagak move on! Misalnya, orang yang terluka hatinya oleh orang lain dan ke mana-mana selalu bicara mengenai luka hatinya kepada orang lain. Waktunya habis untuk mengeluh atau mempersoalkan bagaimana orang lain sampai hati menzalimi dirinya, tak punya waktu efektif untuk mengembangkan kualitas hidup dirinya sendiri, apalagi orang lain.

Akan tetapi, ada juga orang yang mengingat secara persis masa lalu dan justru move on banget. Misalnya, orang yang punya luka batin pada guru SD-nya ke mana-mana selalu mencamkan dalam dirinya supaya ia bertanya terlebih dulu maksud perkataan anak didiknya sebelum ia menjatuhkan penilaian. Ini menjadikan orang ini terus belajar dari penjelasan muridnya dan semakin disukai murid-muridnya karena simpatik.

Kalau begitu, yang bikin move on atau enggak bukanlah tindakan mengingat atau ingatannya sendiri. Lha iyalah, wong ingatan itu daya yang diciptakan Tuhan, mosok mau mengambinghitamkan ciptaan Tuhan terhadap kemacetan orang? Yang bikin gak move on adalah sikap orang terhadap objek ingatannya. Orang bisa melihatnya sebagai objek nostalgia, tapi bisa juga melihatnya sebagai batu pijakan untuk melompat. Tanpa pengakuan, penerimaan, pengampunan terhadap objek yang membuat luka batin itu, orang tidak akan maju, sebagaimana dalam hidup rohani orang tidak bakal maju tanpa pertobatan.menolak lupaBacaan pertama hari ini menyodorkan ingatan Paulus akan sejarah bangsa Israel sampai saat Yohanes Pembaptis bernubuat mengenai Yesus. Jelas ingatan ini bukan sekadar nostalgia pasif, melainkan ingatan yang menjadi leitmotiv untuk proses revolusioner: ia mengingatkan bagaimana kedatangan Yesus ada dalam konteks sejarah keselamatan bangsa Israel. Sementara bacaan Injil menyajikan pesan Yesus bahwa proyek keselamatan Allah bahkan ditempuh dengan jalan tak terduga-duga: akan ada murid yang mengkhianati gurunya.Para murid pun akan mengalami hal yang kurang lebih sama dengan yang dialami gurunya. Maka, kelak setelah kepergian Yesus pun mereka juga akan mengalami penganiayaan seperti guru mereka.

Pada saat-saat seperti itu, memoria passionis (ingatan akan penderitaan) justru memberi kekuatan untuk bertekun. Ketekunan yang dihasilkannya bukan ketekunan konservatif untuk kembali ke masa lalu, melainkan justru ketekunan mencari bentuk kemanusiaan dan keadilan yang sesuai dengan konteks ruang-waktu tertentu. Alhasil, ingatan ini justru bersifat transformatif lebih daripada sifat romantis sebagai nostalgia belaka. Ingatan pertama membawa perubahan karena objek ingatannya adalah keadilan yang lintas ruang-waktu. Ingatan seperti ini mengkritisi aneka bentuk peristiwa masa lalu dengan tolok ukur keadilan. Sementara ingatan kedua  membuat orang kagak move on karena fokus perhatiannya justru terletak pada masa lalu yang kebal kritik demi pelanggengan kepentingan si pengingatnya (yang justru berusaha melupakannya).

Penghapusan perbudakan muncul karena ingatan pertama yang dominan. Pemerintahan langgeng yang represif terjadi karena ingatan kedua didewa-dewakan. Jadi, kalau orang mau move on, ia justru perlu mengingat masa lalu, tetapi fokus perhatiannya adalah nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan.


KAMIS PASKA IV

Kis 13,13-25
Yoh 13,16-20

2 replies

  1. Yang bikin gak move on adalah sikap orang terhadap objek ingatannya. <–lalu sarana dan proses yang seperti apa dan bagaimana agar selalu PUNYA SIKAP yang bener terhadap objek ingatannya mas Brow?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s