Ritual Natal: Halal-Haram

Bacaan Malam Natal ini pernah menjadi sumber cekcok antara Santo Ignasius dan seorang dari suku bangsa Mor (yang sempat menguasai hampir seluruh Spanyol) yang berisiko tertumpahnya darah orang Mor. Syukur, karena “diskresi keledai” (ulasannya klik di sini), Santo Ignasius terbebas dari kekerasan dan pembunuhan. Orang Mor itu menyinggung ayat terakhir kutipan Injil Matius: Ia [Yusuf] mengambil Maria sebagai istrinya, tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus.

Orang Mor itu tak percaya pada doktrin yang diyakini Ignasius, yang mengajarkan bahwa Bunda Maria senantiasa perawan murni. Orang Mor menerima doktrin itu tetapi hanya berlaku untuk Bunda Maria sebelum kelahiran Yesus. Setelah Yesus lahir, orang Mor yakin bahwa Maria tidaklah perawan, alias tentulah berhubungan seksual dengan Yusuf suaminya. Anggapan inilah yang dianggap Ignasius tidak klop dengan sistem kepercayaan Katolik.

Bisa dibayangkan kemarahan Ignasius. Ketidakpercayaan orang Mor itu seakan-akan menyerang seluruh pribadi Ignasius sehingga barangkali jantungnya berdetak lebih kencang ketika muncul kejengkelan itu, apalagi pada saat muncul keinginan untuk membunuhnya! Begitulah, ketika orang ada dalam level debat kebenaran mengenai keyakinan seseorang, emosi bisa terlibat. Di situ hanya ada wacana benar-salah dan pada wacana seperti itu dijunjung eksklusivisme kebenaran. Dengan kata lain, Ignasius menjadi pembela agama (Katolik)!

Itu pula yang bisa terjadi kalau orang sibuk dengan ritual natal di negeri ‘agamis’ ini: orang ribut dengan status haram-halalnya pengucapan Natal. Seandainya mau jujur dengan tubuhnya sendiri, orang bisa membedakan mana wacana yang lebih membawa damai. Wacana pembawa damai tidak berkenaan dengan eksklusivisme kebenaran (baik dengan menyatakan halal maupun haram). Di sini orang cenderung hendak meyakinkan orang lain bahwa pendapatnyalah yang benar; seluruh argumentasi digelontorkan untuk mengukuhkan keyakinannya dan ia baru tenang kalau lawan bicaranya menerima argumentasinya dan ia merasa diri benar. Tak damai-damai amat hatinya meskipun puas sudah menang. Begitulah membela agama.

Wacana pembawa damai sesungguhnya ialah wacana mengenai keselamatan yang inklusif, yang merengkuh semua umat manusia dan memang isi pokok bacaan malam ini juga warta keselamatan itu, sama sekali bukan soal apakah Bunda Maria tetap perawan atau tidak! [Lha siapa yang bisa buktikan? Tinggal percaya gak percaya aja toh? Gak usah meributkan kepercayaan orang lain kalau tidak melanggar HAM!] Saya juga tidak mengerti mengapa ayat 25 diikutsertakan, padahal pesan utamanya ialah bahwa perempuan yang akan diperistri Yusuf itu akan melahirkan anak laki-laki berjudul Yesus. 

Lha, siapa pun orangnya, selama getol membela agama, akan mengotakkan Yesus ini pada agama Kristen. Orang tidak lagi bisa melihat bahwa Allah menyelamatkan manusia lewat aneka cara bahkan meskipun satu-satunya penyelamat menurut orang Kristen adalah Yesus Kristus sendiri! Orang yang membela Tuhan akan memandang warta ini sebagai warta keselamatan universal: bahwa Allah yang mahabesar, mama pengasih dan penyayang itu, tidak mungkin menyelamatkan manusia tanpa masuk dalam dunia.

Nah, setiap umat beriman perlu menjawab pertanyaan itu: bagaimana Allah terhubung, merasuk dalam dunia seturut pandangan agamanya! Pasti bukan hanya pada hari Natal, atau dengan kata lain, natal bukan hanya tanggal 25 Desember; karena Allah senantiasa (hendak) hadir dalam dunia ciptaan-Nya sendiri!


MALAM NATAL TAHUN B
Rabu, 24 Desember 2014

Yes 62,1-5
Kis 13,16-17.22-25
Mat 1,18-25

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s