ID Card – ID Body

Para murid dan pengikut Yesus yang mulai dikejar-kejar dan dianiaya itu lari ke luar wilayah Israel, bukan semata karena mereka takut dan menghindari penderitaan karena pengejaran itu, melainkan juga karena mereka ingin mewartakan Kristus ke tempat lain, meskipun baru kepada orang-orang Yahudi yang ada di luar wilayah bangsa Yahudi (dikenal sebagai diaspora). Konon di Antiokhialah untuk pertama kali mereka memakai identitas sebagai kelompok Kristen. Sebelumnya barangkali mereka dikenal orang sebagai kelompok pengikut orang Nazaret (dan karena itu disebut Nasrani). Identitas baru yang mereka perkenalkan adalah pewartaan mereka sendiri: orang Nazaret yang ceritanya terdengar sampai jauh itu adalah Kristus.

Jadi, meskipun mereka keluar dari wilayah Yahudi atas desakan penganiaya mereka, kelompok orang Kristen ini tidak lantas melepaskan baptisan mereka. Mereka tidak punya ID Card, KTP yang menyatakan bahwa mereka beragama Kristen, tetapi ID mereka tertera dalam tubuh mereka, dalam pewartaan dan tindakan mereka. Alhasil, mereka mewujudkan identitas sebagai pengikut Kristus sehingga layaklah mereka menyebut diri sebagai orang Kristen. Mungkin sekali bahwa orang-orang memberi cap mereka sebagai orang Nasrani, pengikut orang Nazaret itu, dan mereka menghindari stigma buruk dengan memberi muatan baru pewartaan mereka: orang Nazaret yang kami ikuti itu adalah Kristus, dan Kristus itulah yang kami maksud sebagai Tuhan.

Rupanya, persoalan identitas itu juga sudah dialami Kristus sendiri. Orang-orang Yahudi sebetulnya menginginkan ketegasan apakah Yesus itu sungguh-sungguh Mesias. Lha repotnya, Yesus itu maju kena mundur kena. Ngaku Mesias kok ya mereka susah percaya dan malah pemuka agamanya menilai ia menghujat Allah. Tidak mengaku Mesias kok ya mereka menangkap ciri-ciri identitas Mesias itu dalam diri Yesus sehingga mereka sendiri jadi ragu-ragu!

Karena itu, maaf, kesalahan bukan pada layar televisi Anda: masalahnya ialah orang-orang Yahudi yang mengelilingi Yesus itu meminta sebuah pengakuan tetapi tidak mau membuka mata dan hati untuk sendiri memahami, mencocok-cocokkan antara identitas Yesus dan perbuatannya. Ini adalah identitas yang diwartakan jemaat Kristen perdana: Kristus itulah Tuhan. Dari semula sampai sekarang jelas pewartaan ini menjadi skandal bagi orang yang hanya punya pemikiran konvensional bahwa Allah tak mungkin merasuk jadi manusia (yang terbatas tak mungkin jadi terbatas), bahwa Allah tak mungkin berubah wujud, dan tak mungkin tak mungkin lainnya.

Barangkali karena orang sudah terbiasa hidup dalam kemunafikan: apa yang tertera pada ID Card hanyalah identitas semu. Ber-KTP Kristen tapi berperilaku barbar. Ber-KTP Pastor tapi berperilaku predator. Yesus ber-ID Kristus dan ID ini bukan lagi sebuah kartu melainkan raganya sendiri yang sinkron dengan jiwa dan rohnya; ia dan Bapa-Nya menjadi satu karena apa yang diperbuatnya. Maka dari itu, identitas pengikut Kristus tidak terletak pada tanda salib, jubah, roman collar, status sebagai suster, biarawan, sekolah kristen, melainkan pada seluruh dimensi tindakannya.

Lah, kalau tindakan aja kan semua orang bisa juga bertindak seperti yang dibuat orang Kristen alias ikut-ikutan, bukan? Lha iya betul, semua orang bisa melakukan tindakan kasih; itu dimensi lahiriahnya; dari dimensi batiniahnya, bergantung dari relasi pribadi orang dengan Kristus sendiri: domba-Ku mengenal suara-Ku dan Aku mengenal kawanan-Ku.

christian-identity


SELASA PASKA IV A

Kis 11,19-26
Yoh 10,22-30

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s