Power tends to corrupt

jokowiAnalisis kultural biasanya dibuat kalau orang sudah kepentok dengan analisis-analisis lainnya: ekonomi, sosial, hukum, politik. Lha, mungkin sejak mulainya Orde Baru para pengamat belum merasa kepentok, atau mungkin lebih persisnya hanya analisis itu yang mereka punya dan masih optimis bahwa persoalan bangsa ini bisa dijelaskan dengan analisis ekonomi, sosial, hukum, atau politik.

Orang sekarang semakin paham bahwa problem bangsa Indonesia bersifat multidimensi maka jika mau memecahkannya tidak bisa tidak menggunakan pendekatan yang interdisipliner atau lintas ilmu: filsafat politik, hukum, ekonomi, budaya, agama, sosial, sains, bahkan teologi yang di kuping terdengar seperti geologi atau biologi atau telologi (ilmu tentang telo… entah rebus entah goreng).

Saya tidak punya kemampuan membuat analisis interdisipliner terhadap persoalan bangsa ini, tetapi sekurang-kurangnya saya mulai dengan apa yang sempat saya baca: gemuruh knalpot dikira warga lereng merapi sebagai dentuman Merapi! Saya kurang tahu apakah ribuan pengendara Harley dan panitia penyelenggara serta orang-orang yang memberikan izin itu pernah punya trauma letusan Merapi atau gempa 2006. Kalau tidak, tentunya dengan mudah orang berkomentar dengan tawanya, “Ah itu kan cuma perasaan lu aja!” Betul memang, indera manusia bisa menangkap sesuatu tapi keliru mengolahnya: suara sirine Harley dikira ambulans atau suara loudspeaker es krim dikira sirine polisi… Akan tetapi, kekeliruan mengolah data inderawi itu bisa saja terjadi karena trauma orang juga.

moge1Saya masih ingat bagaimana trauma tsunami Aceh menjalar sampai ke Yogyakarta dan mengakibatkan adanya korban karena kepanikan massa akan yang namanya tsunami. Orang daerah selatan pasca gempa segera bergerak ke utara dan orang di utara bergerak ke selatan karena Merapi semakin parah. Trauma seperti ini barangkali tak masuk dalam benak pengendara moge dan pihak-pihak yang terkait tadi. Akan tetapi, kalaupun hal ini tidak masuk dalam empati mereka (kalau punya), sekurang-kurangnya mereka tidak bisa hanya menyalahkan pihak lain seolah-olah pihak lainlah yang keliru mempersepsi, menangkap suara moge sebagai dentuman Merapi. Mengapa? Karena ada ukuran objektif yang tidak bergantung pada trauma atau perasaan pendengar suara moge, yaitu alat pemantau merapi.   MogeSaya tidak punya masalah dengan moge. Saya sudah biasa melihat moge berseliweran di jalan tol, bahkan di jalan raya umum tak jarang saya melihat moge… Yang membuat saya salut ialah mereka mengurangi kecepatan laju mogenya jika ada zebra cross atau ada tanda tempat penyeberangan pedestrian. Sekali saya pernah mendengar pengendara moge mengumpat penyeberang jalan karena ia menyeberangi jalan secara tiba-tiba sehingga pengendara moge ini harus mengerem sekuat tenaga, ya itu bisa dipahami… tetapi ini terjadi bukan di Indonesia!

Yang bisa saya ceritakan apa yang terjadi di Indonesia adalah yang sejak kemarin lusa saya alami. Saya memberikan pelatihan kepada sekelompok mahasiswa di Kaliurang dan tempatnya persis di sebuah penginapan yang hanya berjarak beberapa meter dari gerbang tempat panitia event itu membuka tutup akses ke tempat moge dipamerkan. Penginapan ini punya lahan parkir yang luas, tetapi kami dilarang masuk ke sana. Driver memberikan penjelasan bahwa kami tidak mau parkir di jalan atau pergi ke tempat event mereka, hanya mau masuk ke halaman parkir. Tetap tidak mereka dengarkan bahkan salah satu orang sudah mulai membentak. Lha daripada jadi gak waras, akhirnya kami memutar balik dan parkir di tempat yang lebih jauh dari tempat penginapan. moge3Saya mengingat-ingat kata-kata power tends to corrupt. Saya percaya bahwa di antara sekian ribu pengendara moge itu pasti ada orang-orang yang baik hatinya (apalagi kalau setia menonton acara Mario Teguh, sekurang-kurangnya mereka disapa sebagai orang yang baik hatinya), tetapi dalam hidup bermasyarakat ini baik hati saja tidak cukup. Tetap dibutuhkan empati dan kepekaan sosial. Misalnya pengendara moge yang mau turun dari kendaraannya dan membantu pengendara mobil yang mogok di tengah jalan (meskipun mungkin motifnya bukan pertama-tama untuk membantu, melainkan demi kelancaran acara moge!). Sekurang-kurangnya ini tindakan yang simpatik.

Sayangnya, sebagai kelompok, prosedur yang ditempuh agaknya kurang simpatik dan malah mengundang antipati masyarakat: lha piye jal, wong untuk hobi mahal itu, mereka membayar polisi (dan mungkin instansi lainnya?) untuk pengawalan dan privilese seperti ambulans, dan melewati jalan yang padat kendaraan (kok ya gak lewat jalur yang relatif lebih sepi?) sehingga semua pengendara lain seolah-olah harus mengalah demi hobi atau suka-suka mereka ini? (Mengalah demi kepentingan publik masih masuk akal, lha ini banyak orang mengalah untuk hobi orang berhamburan duit!)

Yang seperti ini pasti bukan cuma soal pengendara moge, pengendara kendaraan lainnya juga bisa begitu. Artinya, ini soal mental juga: begitu orang mulai punya kuasa, ia merasa bahwa ia bisa berbuat apa saja.; waktu masih muda getol demo, setelah masuk dalam struktur kekuasaan gak bisa menerima kritik bahkan mau memutarbalikkan fakta sejarah.

Begitulah, power tends to corrupt, apalagi kalau kuasa itu berpasangan dengan kapitalisme… wow mengerikan!!! Apa yang dikorupsi? Akal sehat!
Kalau akal sehat orang sudah korup alias ora genep, pasti merembet ke korupsi lainnya….

7 replies

  1. wihihihi… Mantab tenan, rama, (tulisannya)! Setelah membaca tulisan ini saya jadi ingin berbagi cerita tentang kehidupan sosial saya di kampus bersama dengan mahasiswa yang lain. Saya ini kan mahasiswa non-reguler di USD. Dalam hal ini, artinya, saya sudah lulus pendidikan D3 Teknik Mesin pada tahun 2009. Tiga tahun saya bekerja sebelum akhirnya memutuskan untuk melanjutkan studi S1 Teknik Mesin pada tahun 2012.

    Nah, di sini letak persoalannya. Saya berteman dengan mahasiswa yang tentu lebih muda dari saya dari segi usia. Mereka lebih muda 4 tahun hingga 7 tahun dari saya. Kadang saya merasa enggan mereka memanggil saya hanya dengan nama. Saya ini orang Jawa. Saat saya memanggil orang yang lebih tua dari saya dan lagi saya baru kenal orang itu, pasti saya panggil “mas” atau “mbak”. Nah, mereka ini kok dengan enteng panggil nama. Apakah saya berarti gila hormat? Apakah saya berlebihan kalau saya minta dipanggil “mas”?

    Apakah menurut rama, sikap saya berkaitan dengan “power tends to corrupt”? Atau “Age tends to corrupt”? Hahaha…. Matur nuwun rama. Mohon ditanggapi nggih. AMDG.

    Like

    • Hahaha Damar… memang begitulah kekuatan “cultural conditioning”; saya baru fasih memanggil orang tua yang terpaut 40 tahun denganku tanpa menyebut “father” (karena memang orang Amerika aneh kalo dipanggil father, dengan maksud ‘romo’), setelah romo amerika itu mengancamku: kalau kamu tidak panggil saya Joep, saya gak mau bicara lagi sama kamu… hahaha… akhirnya sejak itu saya memanggil orang amerika yang sudah kenal dengan langsung menyebut nama… Tapi saya sendiri kalau terhadap orang indonesia tetap menyebut pak, romo, mas mbak karena itu wujud respek saya…
      Sebaliknya, saya tidak punya masalah orang memanggil nama saya langsung kalau memang dia kenal saya dan saya kenal dia… Kalo orang gak kenal saya atau saya gak merasa kenal lalu dia panggil nama saya langsung ya memang saya berasa risih saja… bukan karena sy minta respek, melainkan saya gak biasa disokakrabi… Jadi bergantung kamu ya Damar… Meskipun aku terlahir sebagai orang Jawa, aku juga mengerti bhw bahasa Jawa itu menciptakan kelas… sejak zaman penjajahan. Coba baca misalnya buku language and power tulisan ben anderson…

      Like

      • Hahaha… Wah wah luar biasa awesome! Baiklah coba saya endapkan dulu kata-kata rama Andreas. Coba nanti saya cari buku Language and Power karya Ben Anderson di perpustakaan USD. Semoga ada dan bisa saya pinjam. Matur nuwun rama! Hehe…

        Like

    • Wah…tadi sudah dijajakke mi ungaran je… tapi ya nanti makan siang dong… MOGE? Boleh juga tuh… Montor Gendheng… Gimana ini kabar Ambarawa? Bakal sewa bis katanya tanggal 17 juli?

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s