Keselamatan Itu Inklusif

Konon Allah menetapkan Israel sebagai bangsa terpilih, teberkati; bangsa-bangsa lain dikalahkan oleh Israel  dalam ekspansinya. Lama kelamaan ada nuansa eksklusif dalam penghayatan relasi bangsa Israel dan Allah mereka: yang dianggap bersih adalah mereka yang memenuhi hukum Musa, yaitu mereka yang bersunat dan keluarganya.  Anggota bangsa terpilih ini bahkan tidak boleh masuk ke rumah orang yang tak bersunat!

Maka dari itu, Petrus yang kembali ke Yerusalem setelah membaptis Kornelius pun dianggap melanggar hakikat keselamatan bagi bangsa Yahudi. Akan tetapi, pengalaman Petrus justru menunjukkan arah yang berlawanan: Allah menghendaki keselamatan itu bagi sebanyak mungkin orang; Allah tidak membedakan orang. Setelah peristiwa Yesus (hidup, wafat, dan kebangkitan-Nya), sifat ‘keterpilihan’ sebagai bangsa itu diperluas: tentu orang berkebangsaan Romawi tetaplah berbangsa Romawi, tetapi mereka pun memperoleh harapan keselamatan karena baptisan.

Selanjutnya, iman kristen itu pun meluas dalam wilayah pendudukan bangsa Romawi dan lembaga Gereja menjadi lebih kokoh sehingga muncul juga kecenderungan eksklusif bahwa keselamatan hanya ada dalam institusi Gereja. Dalam perkembangan sejarah jelaslah bisa dimengerti bahwa gagasan extra ecclesiam nulla salus est (di luar Gereja tidak ada keselamatan) perlu ditafsirkan ulang (entah definisi ulang pembaptisan atau redefinisi Gereja) supaya klop dengan pernyataan Kristus sendiri bahwa Ia, sebagai gembala yang baik, justru menuntun semakin banyak domba ke dalam satu kawanan.

So, semakin jelaslah cara kerja keselamatan Allah itu: semakin inklusif. Barangkali bisa dibalik: jika sesuatu bersifat eksklusif, mungkin perlu dikaji ulang apakah sesuatu itu merengkuh semakin banyak orang untuk mendapatkan keselamatan. Barangkali sesuatu yang eksklusif itu benar, tetapi penentuan final benar-tidaknya ya tunggu nanti tanggal mainnya…karena Sang Gembalalah yang kelak punya job itu.

Artinya, setiap umat beragama tentu saja layak dan wajib memegang kebenaran yang disodorkan agamanya, tetapi ia tidak bisa memaksakan kebenaran eksklusif agamanya itu kepada semua orang. Ia harus menghayati kebenaran agamanya (yang eksklusif) dengan cara kerja Allah tadi: inklusif. Kalau tidak begitu, barangkali ia perlu check up kewarasan jiwanya…Syafii maarif

SENIN PASKA IV A/2

Kis 11,1-18
Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram!
Yoh 10,11-18
Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala.

2 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s