Demi Tuhan Saya Dianuin

Saya punya tetangga kamar yang gemar memakai kata ganti. Tidak jarang dia melontarkan pertanyaan sulit seperti “Anunya dah selesai belum?” atau “Kapan itunya datang?” dan suatu ketika saya iseng saja. Ia bertanya,”Itunya sudah dianu belum ya?” dan saya langsung jawab,”Sudah, yang ini juga tadi dah dianuin.” Entah yang dibahas apa!

Saya tidak tertarik pada anunya dan yang saya share di sini lebih terkait pada frase ‘demi Tuhan’-nya. Ini pengalaman sekitar tujuh tahun lalu ketika saya pulang dari negeri Pizza (Hayo Briz tebak itu negeri mana! Eaaa betul, kalau negeri fitsa itu baru Amerika). Saya kembali ke kompleks bandara untuk mengambil peti barang yang saya titipkan perusahaan jasa dan untuk itu saya mesti melewati beberapa loket dengan untuk administrasi.

Untung saya punya saudara yang bisa bantu. Tapi jangan salah, ini bukan nepotisme, waktu itu saya tak punya ‘orang dalam’. Ia membantu saya untuk antar jemput dengan mobilnya sehingga saya tak perlu susah payah membawa peti seberat lebih dari satu kwintal itu, tetapi juga menunjukkan prosedur yang mesti saya lalui setelah bertanya pada salah seorang ‘petugas’. Saya sendiri mengurus berkas dari loket ke loket dan sejak loket pertama memang ‘petugas’ tadi seperti hendak membantu pengurusan berkas untuk mengambil peti itu.

Saya sampaikan padanya ucapan terima kasih [terima kasih doang mah apaan!] atas informasinya dan saya katakan bahwa saya akan mengurusnya sendiri. Entah bagaimana, orang ini mengikuti saya dari loket pertama ke loket kedua. Di loket kedua saya katakan bahwa saya akan urus sendiri, termasuk untuk fotokopi dan pengisian macam-macamnya. [Ya terserah mau urus sendiri tapi fee untuk infonya tadi dong Bang!] Dia terus ikuti saya sampai ke loket dekat gudang barang. Saya mesti bertemu kepala bagian untuk pengambilannya karena peti saya termasuk yang diberi catatan (karena katanya surat dari kedutaan tak ada, wis mboh sakkarepmuwong aku diapusi yo ra ngerti). 

Setelah sekian jam akhirnya saya bisa melihat peti saya dikeluarkan dan entah bagaimana ‘petugas’ yang tadi tak terlihat ketika saya di loket terakhir itu jebulnya ada di situ. Dia mengikuti saya di tengah terik matahari dan mulai sedikit omong mengenai proses pengambilan peti saya. Lalu muncullah rasa iba saya,”Oke, Mas. Makasih ya udah bantu info tadi di sana.” Sembari saya sodorkan uang 20 ribu rupiah. Kagetlah saya waktu dia berkomentar,”Demi Allah, tadi saja saya kasih uang ke Ibu Kepala 50 ribu.” Saya berhenti dan berkata keras padanya,”Kamu menyebut-nyebut Tuhan ya! Saya kembali ke Ibu Kepala.”

Saya berbalik arah hendak kembali ke kantor Ibu Kepala untuk cross-check tetapi pemuda ini segera mengejar saya dan menggiring saya untuk mengurungkan niat. “Bukan begitu, Pastor.” Wow… dari mana dia tahu saya pastor?!
“Saya tadi cek barang, omong ke porter…” Langsung saya tanggapi,”Saya kan sudah bilang sejak awal saya mau urus sendiri!”
“Maksud saya begini, Pastor.” Wah mbelgedhes.
“Kamu gak perlu omong macem-macem. Kamu orang beragama bawa-bawa Tuhan segala tapi mau bohongi orang ya! Gak betul itu kamu sumpah-sumpah demi Tuhan tapi kelakuanmu kayak maling gitu!” [Itu namanya penistaan Tuhan tau!] Entah kalimat apa lagi yang keluar waktu itu. Intinya begitu dan saya tak jadi kasih 20 ribunya.
Sadis…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s