Katanya Jago

Memang ada beberapa jurus untuk menghadapi tragedi yang melibatkan seseorang. Ada yang reaksi spontannya adalah wujud self-defence mechanism, juga dengan membawa nama Allah. Ada yang tampak sungguh terpukul dan mohon ampun kepada Allah dan kepada bangsa, tetapi tak melakukan silih atas tragedi itu. Ada yang tidak ribut dengan pembelaan diri dan mewujudkan keprihatinannya dengan aksi nyata. Jurus-jurus itu terpampang di layar kehidupan kita.

Baru saja terjadi kasus mengerikan yang menewaskan tiga mahasiswa untuk pelatihan dasar unit kegiatan mahasiswa yang disebut mapala. Pihak yang paling bertanggung jawab secara langsung atas tewasnya mahasiswa itu mungkin justru adalah yang menerapkan self-defence mechanism. Yang tanggung jawabnya lebih kecil sedikit, karena tidak melakukan sendiri tetapi lalai mengingatkan pelaku kekerasan, bisa jadi sedih dengan jempol ke bawah tapi tetap tak beranjak dari zona nyamannya. Menariknya, rektor universitasnya rupanya seorang gentleman, yang memutuskan mundur dari jabatan sebagai bentuk pertanggungjawaban moralnya.

Paralel dengan itu, yang terjadi pada Mahkamah Konstitusi belakangan ini menunjukkan jurus-jurus itu juga, tetapi cuma dua jurus pertama, karena memang dua jurus pertama ini berakar pada ketakutan: takut berinteraksi dengan Kebenaran. Orang takut itu tidak selalu berarti orang jahat. Orang baik pun bisa takut. Karena itu, jadi orang baik saja tidak cukup karena kebaikan yang dirundung ketakutan takkan menularkan atau menyebarkan atau meluaskan Kebenaran. Dengan kata lain, orang jadi naif atau retoris atau teoretis atau apa deh sebutannya.

Saya tidak mengatakan bahwa satu-satunya bentuk pertanggungjawaban moral adalah mundur dari jabatan, seperti dilakukan rektor yang gentleman itu, karena setelah mundur dari jabatan pun bisa jadi orang cuci tangan dari tanggung jawabnya. Kalau begitu, entah mundur entah tidak, tolok ukurnya kembali ke karakter yang terlibat dalam tragedi itu: apakah pilihan-pilihannya berakar dari ketakutan untuk berhadapan dengan Kebenaran. Kebenaran bukan ideologi abstrak, melainkan Cinta nyata yang menuntun orang kepada Allah yang sesungguhnya: Love takes up where knowledge leaves off. Begitu kata Thomas Aquinas yang diperingati Gereja Katolik hari ini.

Miris saya membayangkan bagaimana pada zaman ini, di negara yang overload dengan wacana moralistik keagamaan, masih terjadi orang menginjak, menendang, memukul sesamanya dan merasa innocence bahkan meskipun akibatnya adalah peregangan nyawa. Ini tak kalah mirisnya dengan membayangkan bagaimana orang-orang yang dulu merasa jago superhero dan ketika sekarang terbongkar satu per satu malah bersembunyi di balik agama dan aneka peranti lainnya. Andai saja karakter gentleman itu tak hanya dimiliki rektor universitas yang mengundurkan diri itu…..

Tapi ya bagaimana ya, namanya juga takut; dan itulah yang disodorkan dalam teks bacaan hari ini. Yesus menegur murid-muridnya yang takut dan takut ini dikaitkannya juga dengan iman. Orang yang takut tak punya kepercayaan bahwa Cinta Allah mengatasi segala kesalahannya. Njelehinya, tak sedikit orang takut malah berkoar-koar tentang nilai keagamaan. Njijiki… (kayak saya aja).

Tuhan, mohon rahmat keberanian untuk bergaul dengan Kebenaran-Mu. Amin.


SABTU BIASA III A/1
Peringatan Wajib Santo Tomas Aquinas
28 Januari 2017

Ibr 11,1-2.8-19
Mrk 4,35-41

Posting Tahun C/2 2016: Maunya Mbilung
Posting Tahun B/1 2015: Pembawa Damai nan Ceria

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s