Carilah Tuhan, Bukan Agama

Teks bacaan pertama hari ini berisi anjuran bersahaja dan sederhana yang belum diperumit dengan pendekatan filsafat maupun teologi: Carilah Tuhan, hai semua orang yang rendah hati di negeri, yang melakukan hukum-Nya; carilah keadilan, carilah kerendahan hati; mungkin kamu akan terlindung pada hari kemurkaan Tuhan.
Bersahaja karena kata modalitasnya ‘mungkin’ dan tidak diganti, entah disadari atau tidak, oleh orang-orang yang sok tahu mengenai agamanya sendiri. Semua orang yang paham bahwa agama adalah sarana pencarian Tuhan (bisa Tuhan yang mencari, bisa juga manusia yang mencari), mengerti juga bahwa modalitas ‘mungkin’ tak bisa diganti dengan ‘pasti’. Tendensi untuk mengganti kata modalitas ini menggeser (atawa menggusur) orang untuk jadi radikalis, fundamentalis, sumbu pendek, kaca mata kuda, dan semacamnya.

Tak perlu berpanjang lebar, silakan simak saja liputan Al Jazeera English berikut ini.

Liputan ini mengingatkan saya pada teks Paulus hari ini: …apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah.

Tentu saja saya tidak mengatakan bahwa Ridwan Sururi, horse librarian itu, bodoh, lemah, tak terpandang, tak berarti. Justru sebaliknya, dia cerdas, kuat, dan bermartabat karena begitu tekun menindakkan hal yang oleh kebanyakan orang bisa jadi dipandang rendah dan itu malah memberinya the biggest satisfaction. Orang-orang macam inilah yang adalah pencari Tuhan, penghayat Sabda Bahagia yang disodorkan Yesus: bukan kepuasan diri yang berasal dari gelojoh untuk memperkaya diri dengan harta dan kuasa, melainkan kepuasan diri karena hidupnya dibaktikan untuk kemanusiaan konkret yang universal, yang terukur, bukan cuma ideologi manis seperti tercuatkan, tercuitkan, dan terciutkan oleh beberapa (mungkin malah kebanyakan) pasangan calon. Calon manten? Bukan, calon anu.

Orang tulus seperti Ridwan Sururi ini, kalau berpolitik, mungkin akan tergilas oleh mereka yang punya modal duit. Kalau begitu, problemnya bukan pada Ridwan Sururi, melainkan pada orang-orang yang tidak mencoblos Ridwan Sururi. Loh… emangnya dia nyalon di mana, Rom? Saya gak tau, mungkin di salah satu klinik kecantikan.

Poinnya bukan si Ridwan Sururi, Bang, melainkan ketulusannya. Orang tulus biasanya malah nothing to lose karena ia terbebaskan dari kepentingan dirinya sendiri. Yang ngotot malah biasanya punya banyak titipan kepentingan. Ini tak cuma soal pilkadal, tetapi juga soal orang hidup beragama. Semakin orang ngotot membela agamanya secara verbal, semakin ia menodai agamanya sendiri. Setiap orang beragama dipanggil untuk mencari Tuhan dan orang yang menemukan Allah lewat agamanya dengan sendirinya memuliakan agamanya dengan amalan yang jadi kebaikan yang tak mengenal SARA. Begitu ada unsur SARA, itu indikasi bahwa orang tidak sungguh-sungguh mencari Tuhan.

Ya Allah, mohon rahmat ketulusan hati. Amin.


HARI MINGGU BIASA IV A/1
Minggu, 29 Januari 2017

Zef 2,3.3,12-13
1Kor 1,26-31
Mat 5,1-12a

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s