Penistaan Babi

Siapakah babi itu sehingga manusia mengingatnya? Seberapa penting sih babi ini? Teks hari ini memang menyebut ribuan babi, tetapi sebagai pemeran pembantu. Coba bayangkan betapa susahnya dulu mengarahkan ribuan pemeran pembantu ini ya. Babi-babi ini dimasuki setan yang sebelumnya merasuki seorang warga yang hidup di daerah kafir saat itu. Babi-babi ini lalu terjun ke danau dan mati lemas semuanya.

Akan tetapi, babi itu bukan pemeran utama. Jadi, cerita utamanya pasti bukan soal babi yang mati, melainkan miapah atau karena apa babi-babi itu mati! Mereka mati lemas karena dirasuki setan yang mau nyemplung ke danau untuk menjauhi Yesus. Nah, orang yang sebelumnya dirasuki setan itu jadi waras seperti sedia kala. Lebih dari itu, ia hendak mengikuti Yesus tetapi Yesus menolaknya: dah kamu pulang aja dan wartakanlah kepada orang-orang sekampungmu apa yang dibuat Tuhan terhadapmu dan bagaimana Ia telah berbelas kasihan padamu.

Wuaaaaa…. ternyata ya memang gak semua orang perlu ikut Yesus ke mana-mana ya. Pokoknya, orang mempersaksikan kepada sesamanya apa yang telah diperbuat Allah bagi hidupnya dan bagaimana Allah itu berbelas kasihan kepada manusia.

Kisah ini bisa ditangkap secara simbolik bagaimana agama yang hendak ditawarkan Yesus. Mohon dicamkan, Yesus mendirikan Gereja, bukan agama Kristiani. Kalau Gereja mau jadi agama, karakter pentingnya tidak terletak dari tambahan-tambahan ornamen yang dilekatkan pada agama lama. Ini bukan seperti membubuhkan peranti modern dalam bangunan kuno, melengkapi kedahsyatan bangunan cagar budaya dengan fasilitas modern yang canggih. Bukan. Agama yang diindikasikan Yesus juga bukan agama yang hendak menambahi kode-kode moral baru pada agama lama.

Agama yang ditawarkannya ialah agama yang mengubah visi secara radikal mengenai Allah dan manusia. Yesus tidak memberi sesuatu yang baru terhadap kode moral yang sudah disodorkan sejak Musa dan penerusnya. Ia tak punya pretensi untuk menyempurnakan jumlah kode moral yang sudah digumuli oleh ahli-ahli Taurat. Ia mengubah perspektif pandangan ‘saja’, suatu paradigm shift [sudah mirip cagub belon ya saya?]. Perspektif manakah itu?

Kisah Musa menginsinuasikan cara pandang dengan acuan Gunung Sinai. Semua dilihat dari gunung yang memanifestasikan Allah yang mahabesar yang dahsyat. Sekarang, dengan sosok Yesus ini, diindikasikan adanya Allah yang sama tetapi memanifestasikan Diri secara berbeda: lewat gunung Golgota. Ada Allah yang tersalibkan, terfitnah, ternista, terhina sampai mati demi cinta kepada manusia. Dengan cerita hari ini, tentu saja saya tidak hendak menyamakan Yesus dengan babi-babi yang mati itu.

Mari lihat baik-baik ceritanya. Yesus datang dan setan yang merasuki orang itu mohon supaya digeser/digusur ke babi-babi. Artinya, berhadapan dengan Yesus yang berparadigma Golgota itu, setan memilih babi. Kalau orang hendak kabur dari paradigma Golgota, babi-kirik-kucing-buaya-cecak-sapi lebih tinggi nilainya daripada manusia. Orang yang tidak melihat dari sudut pandang Golgota selalu akan mengorbankan manusia demi hewan atau idol lainnya.

Allah yang dimanifestasikan Yesus adalah Allah yang memuliakan manusia. Runyamnya, memuliakan manusia juga bisa jadi multitafsir dan setiap orang bisa mengklaim tafsirannya sendiri paling benar. Kasus penggusuran atau penggeseran bisa jadi contoh, tetapi tak perlu dibahas sekarang.

Ya Allah, mohon keberanian untuk mengorbankan kepentingan egoistik kami demi kemuliaan manusia ciptaan-Mu. Amin.


SENIN BIASA IV A/1
30 Januari 2017

Ibr 11,32-40
Mrk 5,1-20

Posting Tahun C/2 2016: Yang Haram Memang Enak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s