Istirahatnya Kata dalam Fakta

Topeng penistaan agama belakangan ini makin kentara bukan dalam ranah meja hijau, melainkan ranah politik (meja pink?). Prihatin juga ada pendeta yang terlibat kasus meja hijau dan pink, meskipun belakangan diketahui ini pendeta dari Gereja Kristen mandiri, yang gak ada hubungannya dengan kristianitas selain dalam arti topeng tadi. Bukan soal munafiknya pendeta (akeh tunggale nek kuwi, seperti pemuka agama lainnya), melainkan soal orang-orang naif yang dengan mudahnya tertipu lantaran uang jadi peran utama.

Sekadar info ya. Secara garis besar di Indonesia ini memang ada banyak Gereja yang bolehlah dipilah sebagai Gereja Katolik dan Protestan (yang umumnya di Indonesia disebut Kristen). Ada Gereja Ortodoks tapi tak banyak umatnya. Gereja Katolik secara institusional (dalam koordinasi dengan KWI, yaitu Konferensi Waligereja Indonesia) berelasi baik dengan Gereja Protestan yang bergabung dalam Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI). Bisa terjadi seorang Kristen yang bermodal cukup dan punya pengikut setia kemudian membangun Gereja sendiri tanpa koordinasi dengan PGI. Barangkali pendeta yang terlibat kasus meja hijau dan pink tadi adalah pendeta yang nyeleneh dari PGI itu.

Janjane, sebetulnya, nyeleneh itu kan pada dirinya gak jelek ya? Bukankah berpikir out of the box itu malah mengkondisikan orang untuk maju, mencapai sesuatu yang lebih inovatif? Bahkan, teks hari ini mengisahkan orang-orang yang nyeleneh itu, bukan? Ya betul. Wanita yang sudah 12 tahun sakit pendarahan dan pergi ke dokter malah semakin memburuk (mungkinkah karena kongkalikong dengan bisnis obat?) itu akhirnya nekad menerobos rombongan orang banyak untuk mendekati Yesus. Keyakinannya nyeleneh dari keyakinan orang sakit pada saat itu. Pada umumnya orang sakit waktu itu pasrah pada keyakinan yang digembar-gemborkan pemuka agama: kalau aku menyentuh orang, ia akan jadi najis. Ternyata keyakinannyalah yang klop dengan kenyataan: jika ia menyentuh jubahnya saja, ia akan sembuh.

Yesus juga nyeleneh. Orang mati kok dibilang tidur! Jelas saja orang-orang yang semua ribut menangis ikut tertawa mencibir. Akan tetapi, ternyata keyakinan Yesus ini jugalah yang klop dengan kenyataan: ia membangunkan anak yang sudah mati itu dan dia bangun!

Kata-kata pemuka agama tak perlu diamini jika kata-kata itu hanya membangun ideologi bahkan mengenai Tuhan sekalipun. Kata-kata baru bermakna kalau ada sambungannya dengan fakta. Lah, Rom, nunggu faktanya dulu baru bisa bilang kata-kata itu bermakna, bisa ketipu dong! Iya betul, karena kebanyakan dari kita memahami fakta melulu sebagai sesuatu yang ‘di luar sana’, bukan sesuatu yang ‘di dalam sini’. Itulah beda kita dengan wanita berpendarahan 12 tahun dan Yesus. Mereka sungguh connect dengan apa yang terjadi dalam hati, dalam batin, pada kedalaman hidup mereka. Dengan itu, orang bisa mengendus-endus mana ajaran-ajaran pemuka agama yang palsu: yang eksklusif, yang menindas kelompok tertentu untuk membela kepentingan diri, yang menjungkirbalikkan agama dan kemanusiaan (bukan agama untuk kemanusiaan malah manusia untuk agama), yang tak memberi harapan akan kehidupan; singkatnya, yang tidak semakin mengarahkan orang pada pencarian Allah.

Ya Tuhan, mohon kebijaksanaan-Mu supaya kata-kata kami memancarkan cinta-Mu. Amin.


SELASA BIASA IV A/1
Peringatan Wajib S. Yohanes Bosko
31 Januari 2017

Ibr 12,1-4
Mrk 5,21-43

Posting Tahun B/1 2015: Mosok Gak Bisa Menyembuhkan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s