Mosok Gak Bisa Menyembuhkan?

Yesus didatangi Yairus, seorang kepala rumah ibadat, yang anaknya sudah nyaris mati. Mestinya sudah sangat kritis dan tak ada waktu lama lagi untuk mengharapkan anak itu bertahan hidup. Yesus bergegas menuju rumah Yairus, tetapi di tengah jalan, ada perempuan yang sakit pendarahan menyentuh jubah Yesus dan halah…. kok ya sempat-sempatnya Yesus berhenti untuk tanya siapa yang megang jubahnya. Waktu genting gituloh!

Murid-murid ya heran dengan pertanyaan Yesus: lha wong jelas ada banyak orang di sekelilingnya kok, gimana bisa tahu orang yang mana yang menyentuh jubahnya! Oh, ternyata yang memegang jubah Yesus itu gemetar ketakutan, tetapi karena itulah ia malah menceritakan pengalaman imannya: bahwa hanya dengan memegang jubahnya saja ia bisa sembuh. Ia memang merasa penyakitnya hilang dan Yesus malah kemudian menegaskan: imanmu telah menyelamatkan engkau.

Nah, meskipun adegan itu mungkin cuma terjadi satu menit, yang namanya terlambat ya tetaplah terlambat: anak Yairus sudah mati. Jadi, sebetulnya gak ada gunanya lagi Yesus bersusah-susah datang ke rumah Yairus untuk menyembuhkan anaknya! Toh Yesus tetap datang dan anak Yairus memang sudah mati, tapi Yesus berkomentar: dia ini cuma tidur. Ya semua orang tertawalah! Entah bagaimana ekspresi mereka ketika tahu bahwa anak Yairus itu bangun lagi.

Dalam peristiwa genting, hanya satu hal yang pantas mengintervensi orang: iman kepada Allah yang mahakuasa, yang bisa mengeluarkan orang dari situasi terburuknya sebagai manusia. Penggunaan angka dua belas memang menunjuk pada kesempurnaan atau kepenuhan: 12 tahun sakit pendarahan dan usia anak 12 tahun. Bahkan dalam sakit memuncak (perempuan 12 tahun pendarahan), yang manifestasinya ialah kematian (anak Yairus berusia 12 tahun), iman Yesus kepada Bapanya itu menjadi saluran penyembuhan yang datang dari Allah sendiri.

Orang modern mungkin tak cukup beriman untuk menjadi saluran penyembuhan, tetapi lihatlah permintaan Yesus setelah anak Yairus bangun: berilah anak itu makan!

Memberi makan tentu bukan aktivitas heboh, tetapi kalau orang melakukan hal biasa dalam ketekunan, dengan cara luar biasa, apakah itu bukan juga saluran penyembuhan dari Allah sendiri?


SELASA BIASA IV B/1
Peringatan Fakultatif St. Blasius
3 Februari 2015

Ibr 12,1-4
Mrk 5,21-43

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s