Tontonannya Makin Asik

Kebenaran itu mungkin asik ditonton, tapi gak asik dihayati atau dijalankan. Itulah yang sekarang ini sedang tergelar dalam panggung politik menjelang pilkada. Kita penonton mah asik-asik aja menyaksikan bagaimana tokoh-tokoh culun ditampilkan media. Kita maunya kebenaran versi kita (seperti juga maunya tokoh-tokoh culun itu terhadap versi mereka) terealisasi dalam drama kehidupan ini. Tapi apa emang kebenaran yang sesungguhnya itu adalah kebenaran versi kita? Kalau begitu, bagi mereka juga berlaku hal yang sama: kebenaran versi mereka. Dengan begitu, jadilah kita dan mereka itu tokoh-tokoh culun.

Teks hari ini mengisahkan Yesus yang pulang kampung dan memberi pengajaran seperti layaknya seorang tokoh agama. Janjane orang-orang kampungnya itu ya terpukau terhadap ajaran yang disampaikannya, tetapi kenapa juga mesti melakukan follow up terhadap apa yang diajarkannya? Wong dia itu ya seperti orang kampung yang lainnya; dulu juga hidupnya sama seperti tukang kayu atau batu atau pasir atau apalah. Kenapa mesti menganggapnya lebih superior?

Begitulah orang yang salah fokus terhadap Kebenaran sehingga cuma pikir mengenai kebenaran versi sendiri. Fokusnya pada orang lain sebagai pembanding dalam menentukan sikap, bukan pada Kebenaran yang disodorkannya. Kesalahan fokus ini membuat orang tertutup pada Kebenaran yang melampaui penuturnya dan itu ekuivalen dengan menolak Kebenaran. Menariknya, jika Kebenaran ditolak, Dia tak berkutik untuk melakukan banyak mukjizat.

Kalau begitu, mungkin baik dipikirkan suatu cara pandang baru terhadap ajaran bidah: bukan menolak keilahian Kristus, melainkan meremehkan kemanusiaan-Nya. Wah, Rom, gak nyandhak mikirnya. Lha justru itu: gak bisa kan memikirkan keilahian Kristus? Persis karena itu wilayah kognitif, kalaupun orang menyangkal keilahian Kristus ya gak apa wong itu cuma menolak utak-atik-otaknya. Wis sakkarepmu mau jelaskan gimana deh bahwa Kristus itu ilahi. Aku ora nyandhak, tapi aku akan bela mati-matian bahwa Yesus itu Allah! Jangan sampai ia dinista orang lain, karena Dia begitu suci! Hmmm… mungkin ada betulnya juga.

Akan tetapi, yang jadi bidah sebenarnya ialah justru ketika orang meremehkan apalagi meniadakan kemanusiaan Yesus itu. Loh, bukannya teks tadi bilang orang-orang itu menolak Yesus karena dia itu cuma salah satu dari mereka, orang biasa aja dan karena itu mereka tersesat, tak menangkap Kebenaran?
Persis itu maksud saya, Bu’, orang-orang itu meremehkan yang biasa, memandang sebelah mata manusia biasa seakan-akan Allah tidak bisa memanifestasikan Diri dalam manusia biasa! Allah itu haruslah sesuatu yang tidak biasa, dari ‘luar sana’, bukan dari ‘dalam sini’ yang orang sudah hafal [bahkan meskipun tak ikut debat pilkadal].

Ketika orang memandang secara biasa hal-hal biasa, ia kehilangan Roh, ia kehilangan Allah yang senantiasa hendak menghadirkan diri dalam pergumulan hidup orang beriman. Ketika orang tak menemukan makna dalam rutinitas hidupnya, biasa jadi ia kehilangan leitmotif yang justru membuat hidup biasanya jadi ruaaaaarrrrrr byasa’. Tanya kenapa? Ia tak mendengarkan Kebenaran, sibuk mendefinisikan kebenaran versinya sendiri dengan kepala, tanpa hati, tanpa grêgêt, no guts.

Ya Tuhan, ajarilah aku untuk mampu mempersembahkan hidup rutinku bagi-Mu, bagi Kebenaran, bagi kemanusiaan. Amin.


RABU BIASA IV A/1
1 Februari 2017

Ibr 12,4-7.11-15
Mrk 6,1-6

Posting Tahun C/2 2016: Ayo Sekolah
Posting Tahun B/1 2015: Disiplin Itu Gimana…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s