Saya Disadap

Tidakkah Anda tersenyum (entah geli, pahit, kecut, terhibur, jengkel) karena kasus sadapan hari-hari ini? Kita sedang berada di dunia politik perkaretan, tarik ulur ke sana kemari, lompat ke sana kemari, dan itu bisa jadi sangat lucu seperti yang disodorkan klip berikut ini.

Kita lihat di situ bahwa kelucuan terjadi karena adanya kesenjangan antara apa yang dipikirkan pelaku tentang kenyataan dan kenyataannya sendiri. Kenapa terjadi kesenjangan? Karena mata si pelaku tertutup sehingga dia cuma hidup dalam pikiran dan bayangannya sendiri. Itu mengapa ada pelaku politik yang “minta ketemu dong” tapi melalui konferensi pers. Tanpa belajar teori komunikasi Habermas, orang bisa tahu bahwa ini bukan pola komunikasi yang sehat, yang menyembunyikan kepentingan alih-alih melakukan komunikasi yang tulus dan sayangnya, sebagian besar dari kita emang gitu orangnya.

Hari ini Gereja Katolik, 40 hari setelah Natal, memperingati bayi Yesus yang dipersembahkan di Bait Allah. Atas petunjuk kawan medsos saya dengarkan kajian Al-hikam oleh Kyai Haji Imran Jamil dan ada pokok yang nyambung dengan peringatan Gereja Katolik ini. Tokoh dalam teks hari ini yang menarik perhatian saya adalah Simeon yang mengidungkan pujian dengan rumusan: Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini berpulang dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa. Di situ ada penegasan diri Simeon sebagai hamba Allah yang begitu bahagia karena telah melihat keselamatan Allah sendiri. Dalam kajian Kyai Haji Imran Jamil tadi, sosok seperti Simeon ini adalah sosok hamba yang wushul, sampai kepada Allah.

Hamba mana yang tidak disadap Allah? Tak ada. Setiap hamba Allah sudah punya ‘chip’ yang ditanam dalam dirinya, apapun namanya: batin, hati, intuisi rohani. Ini prinsipnya ya sadap. Akan tetapi, penyadapan ini tidak dimaksudkan untuk kepentingan si penyadap, melainkan justru supaya hamba yang disadap itu bisa mendengar Allah demi menjalankan fungsi kehambaannya. Celakanya, seperti tadi dikatakan, kita ini ada dalam dunia politik perkaretan, yang isinya justru membahayakan ‘chip’ tadi karena yang dipertahankan adalah kepentingan-kepentingan pribadi. Mana ada orang yang mempertahankan kepentingan pribadi mau disadap? Terbongkar dong kepentingan pribadinya.

Semakin orang nervous dengan sadap menyadap, semakin kelihatan bahwa orang menyembunyikan kepentingan dirinya. Semakin ia menyembunyikan kepentingan diri, semakin susah juga ia mendengar suara Allah. Hamba Allah menyadari bahwa hidupnya disadap Allah dan ia pun tidak punya keberatan terhadap penyadapan politik perkaretan sejauh ia memiliki ketulusan. Wong namanya hamba, ya gak usah berpretensi sebagai tuan atas kehidupan ini. Jalankan saja fungsimu sebaik-baiknya sebagai hamba dan kalau itu dinilai sesat, ya perbaiki, bukan malah merusak ‘chip dengan tipu sana tipu sini, provokasi sana sini, serang sana sini.

Tuhan, bantulah kami supaya semakin hari semakin mampu mengidentifikasi kepentingan diri yang bisa merusak relasi dengan-Mu dan sesama. Amin.


PESTA YESUS DIPERSEMBAHKAN DI BAIT ALLAH
Kamis Biasa IV A/1
2 Februari 2017

Ibr 2,14-18
Luk 2,22-40

Posting Tahun C/2 2016: Orang Tua Bikin Hang
Posting Tahun B/1 2015: Bismillah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s