Disturbing Truth

Ada orang yang bisa membangun rezim dan mempertahankannya selama 30-an tahun. Ada yang cukup 10 tahun saja tetapi bisa jadi kelekatannya terhadap yang sepuluh tahun itu membuatnya lebih baper daripada yang 30-an tahun tadi (karena kelekatan tak bergantung pada durasi ‘kepemilikan’, tapi pada kemampuan menata batin). Durasi kekuasaan politik sosok Herodes yang dikisahkan teks hari ini melampaui angka-angka tadi: 40-an tahun. Akan tetapi, Herodes ini hanyalah antek kekaisaran Romawi sehingga ia tetap ada dalam bayang-bayang Kaisar. Artinya, ia mesti menjaga reputasinya supaya Kaisar tak memecatnya sebagai katakanlah menteri begitu #eh…

Yohanes Pembaptis rupanya tak peduli dengan reputasi Herodes. Ia cuma mau menyampaikan apa yang dalam pertimbangannya perlu disampaikan. Ini mengganggu Herodes karena yang disampaikan Yohanes itu suatu disturbing truth, mengusik hati Herodes. Ini kelihatan dalam narasi yang mengatakan bahwa Herodes sedih hatinya karena permintaan kepadanya untuk membunuh Yohanes. Kebenaran memang mengombang-ambingkan orang karena ia menggoda orang untuk menjauhi kepentingan narcisistiknya. Tapi apa mau dikata, Herodes akhirnya toh memenggal kepala Yohanes (tentu bukan ia sendiri yang memenggal; seperti orang menerima suap ya tidak harus menerimanya secara langsung, kecuali suapan dari sendok, mesti diterima langsung #ehlagi…).

Menariknya, kejadian pemenggalan kepala Yohanes itu ada dalam konteks pesta! Pernahkah terbayang dalam benak Anda berpesta mantenan di pinggir jalan dan di situ ada kecelakaan yang merenggut nyawa orang? Itu jarang terjadi, tetapi bisa terjadi. Barangkali cuma muncul rasa kurang nyaman. Pesta gembiranya ternoda. Akan tetapi, noda itu muncul dari luar situasi pesta, bukan bagian pestanya sendiri. Ada kalanya orang bergembira di atas tragedi hidup orang lain. Ya begitulah, orang baru membantu sesamanya yang terkena musibah setelah selesai menertawakan atau mengejeknya.

Anyway, cerita Yohanes yang dipenggal itu bukanlah pesan utamanya karena kisah pemenggalan kepala Yohanes Pembaptis itu cuma dilekatkan pada kalimat awal bahwa Herodes juga mendengar nama Yesus yang sudah jadi viral (padahal belum ada internet) dan namanya diasosiasikan dengan Yohanes Pembaptis. Herodes mendengar isu tentang Yesus ini sebagai Nabi Elia yang datang lagi atau Yohanes Pembaptis yang bangkit lagi. Disturbing truth senantiasa menemani Herodes. Tentu saja semua orang punya disturbing truth. Pertanyaannya ialah bagaimana orang berhadapan dengan Kebenaran yang senantiasa mengusik hati ini: kongkalikong untuk membungkamnya, mengalihkan perhatian, mengabaikannya, atau secara terbuka mendengarkannya baik-baik?

Sebagian orang mengambil risiko untuk mendengarkannya baik-baik. Sebagian lagi menunda untuk mendengarkannya dan sampai akhir hayatnya tak terdengar lagi. Sebagian lainnya langsung mematikannya dengan cara ‘membunuh’ siapa saja yang mengganggu status quonya. Orang beragama yang sejati itu senantiasa mengambil risiko atas Kebenaran.

Tuhan, bantulah kami untuk semakin berani menghidupi kebenaran-Mu. Amin.


JUMAT BIASA IV A/1
3 Februari 2017

Ibr 13,1-8
Mrk 6,14-29

Posting Tahun C/2 2016: Hobi Cari Kambing Hitam
Posting Tahun B/1 2015: Martir Ja’im

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s