Martir Ja’im

Narasi dalam bacaan sebelum teks hari ini menuturkan perutusan murid berdua-dua. Lha, selama mereka pergi, apa yang dibuat Yesus? Saya tak tahu; paling-paling berdoa dan melakukan penyembuhan. Yang jelas, sebagai pencerita, Markus menyisipkan dua catatan di antara kepergian dan kepulangan para murid kepada Yesus: pandangan Herodes mengenai Yesus dan pembunuhan Yohanes Pemandi.

Kutipan hari ini sendiri merupakan catatan ‘religius’ Markus atas kematian Yohanes Pemandi. Markus menunjukkan bagaimana di kedalaman diri Herodes, Yohanes benar-benar nabi yang menunjukkan kebenaran. Karena itu, hatinya mesti berguncang dalam tegangan antara membela kebenaran dan memenuhi ambisi pribadinya. Seandainya saja Herodes mempelajari proses discernment of spirits ala Ignasius Loyola, kiranya ia tahu kekuatan roh mana yang mesti diikutinya.

Flavius Josephus dalam Antiquitates menunjukkan kerangka politis kematian Yohanes Pemandi: karena takut pengaruh Yohanes Pemandi bisa memicu pemberontakan dan tak ingin menanggung risiko komplikasi nan rumit, lebih baik Yohanes dihabisi saja. Penyisipan ini tampak memberi makna antisipatif terhadap risiko kesaksian yang dihadapi Yesus dan murid-muridnya. Ya gimana lagi, kesaksian adalah kemartiran (dalam Bahasa Yunani).

Kesaksian Yohanes Pemandi mengantisipasi kematian Yesus dan banyak lagi orang yang terpanggil mengikutinya. Ini mungkin tampak sedikit menghibur karena ada banyak teman dan lagipula setiap orang toh harus mati pula. Cuma bedanya, mati alamiah itu menunjuk pada akhir hidup ini, sedangkan mati karena kemartiran itu mempersaksikan fakta di dalam dan di luar kematian, yaitu cinta, yang merupakan prinsip kehidupan. Martir menjadi saksi fakta dalam dan di luar kematian, cinta yang merupakan prinsip hidup.

Begitulah, suasana pesta Herodes menyerupai kelahiran yang dirayakan dengan kematian. Modalnya uang, kekuasaan, nafsu, intrik, keserakahan, martabat palsu yang berujung pada piring mengerikan dengan penggalan kepala Yohanes. Pesta Yesus bermodalkan aroma roti sederhana, cinta sebagai kecambah atau toge yang berkembang dalam sharing of faith, yang diteguhkan oleh kemartiran Paulus Miki dan puluhan orang lain di Jepang yang juga dibunuh karena warta kesaksian mereka.

Tentu, kemartiran zaman sekarang tak perlu dipersempit dengan pemenggalan kepala dan meletakkan kepala itu di atas piring atau nampan. Sebaliknya, apakah di atas piring atau nampan itu orang berani menyatakan kebenaran dan tidak terus menerus basa basi ja’im sebagai begundal.

Ya Allah, bantulah aku untuk jeli dengan gerakan batinku dan mau mengikuti suara-Mu. Amin.


JUMAT BIASA IV B/1
6 Februari 2015
Peringatan Wajib Santo Paulus Miki dkk

Ibr 13,1-8
Mrk 6,14-29

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s