Hobi Cari Kambing Hitam

Bukan cuma orang baik yang bisa sabar. Orang jahat pun bisa sabar menanti waktu yang tepat (kalau dia terpaksa mengeksekusi kejahatan sebelum waktu yang tepat, namanya kêpèpèt). Jadi, sabar tidak otomatis menunjukkan seseorang baik atau jahat. Maka, tak perlu mengklaim diri sebagai orang baik hanya karena sabar (selain itu, orang baik memang tidak mengklaim dirinya baik sih).

Herodias itu sabar menanti waktu membalaskan dendamnya kepada Yohanes Pembaptis. “Pancen asem tenan kok Yohanes Pembaptis itu! Dia berisik, menyinggung-nyinggung perkawinanku dengan Herodes, sodara Filipus, suamiku yang sudah kuceraikan. Apa sih problemnya? Herodes juga dah cerai dari istrinya!” (Yeee, Ibu. Lu pikir kawin tuh kayak kontrakan ya?!) Herodes dan Herodias seakan lupa bahwa orang Yahudi punya ketentuan yang diyakini klop dengan hukum Tuhan (bdk. Im 18,16; 20,21). Seperti orang kebanyakan, juga zaman sekarang, Herodias tak suka diingatkan pada kebenaran. Ia tak suka KKN dikoar-koarkan, dibongkar. Maka perlu dicari konspirasi untuk membungkam orang yang menyerukan kebenaran itu, entah dengan racun, dengan skandal hukum, atau modus lainnya.

Menariknya, meskipun Herodes memenjarakan Yohanes Pembaptis, ia menaruh rasa hormat kepadanya. Tampaknya ia tak pernah berencana membunuhnya. Ia segan dan mungkin juga takut. Maklumlah, ini prinsip awal pembedaan roh: karena statusnya menjauh dari Allah, tentu ia krasan dengan suara kebencian Herodias, tetapi takut terhadap kebenaran yang disuarakan Yohanes Pembaptis (silakan klik sini kalau berminat). Herodes ini sebetulnya punya peluang menerapkan discernment Santo Ignatius bahkan sebelum Ignatius itu lahir! Hatinya terombang-ambing oleh perkataan Yohanes Pembaptis. Itu indikasi bahwa Herodes masih tune in dengan kebenaran, apalagi ia senang juga mendengarkan suara kebenaran Yohanes Pembaptis.

Sayangnya, kesabaran Herodias klop dengan gelora nafsu Herodes yang memang tak terkendali: nyawa manusia tak lebih berharga dari sumpah nan arogannya. Korbannya adalah Yohanes Pembaptis. Betullah pepatah yang mengatakan bahwa gajah sama gajah berkelahi, pelanduk di tengahnya mati. Dua gajah itu tak berkelahi secara frontal sih, masing-masing mengejar impian mereka sendiri, tetapi ujung-ujungnya sama: pokoknya jangan utak-atik perkawinanku yang sudah suka sama suka ini!

Tak ada nuansa tobat dalam batin Herodes dan kekuasaannya pun tidak heboh-heboh amat dan rupanya memang perkawinannya dengan Herodias tak memberikan keturunan (cocok dengan yang tertera dalam hukum Tuhan yang diyakini bangsa Yahudi tadi, Im 18,16 dan 20,21). Ini beda dengan kebesaran Daud yang diungkapkan dalam bacaan pertama. Skandal yang dibuat Daud memang besar, tetapi pertobatannya lebih dari sekadar bernazar. Skandal besarnya pun diampuni dah hidupnya dipenuhi berkat Allah.

Tak sedikit orang yang jatuh dan tak bangun lagi dengan dalih sudah kepalang basah berdosa, seakan tak percaya kekuatan belas kasih Allah. Kata Santo Augustinus: di antara nafas terakhir manusia dan neraka, terhampar samudera belas kasih Tuhan. Kata seorang teman, status Facebook persisnya: saat kita jatuh, yang kita butuhkan adalah berdiri, bukan berlari. Herodes jatuh, lalu melarikan diri dari suara kebenaran dalam batin, mencari kambing hitam.

Ya Tuhan, semoga aku dapat menebus akibat atau dampak dosaku dengan memuliakan-Mu dalam memperjuangkan kepentingan bersama. Amin.


HARI JUMAT PEKAN BIASA IV C/2
Peringatan Wajib S. Agata
5 Februari 2016

Sir 47,2-11
Mrk 6,14-29

Posting Tahun Lalu: Martir Ja’im

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s