Bebas Memang Gak Enak

Bebas itu gak enak, makanya banyak orang baru mau bebas pada saat menjelang kematian. Itu juga kalau sempat. Sebagian orang tak sempat membebaskan dirinya karena kematiannya datang tiba-tiba. Mungkin benarlah refleksi Jean-Jacques Rousseau yang menegaskan bahwa semua orang terlahir bebas dan kemudian di mana-mana dia terbelenggu: oleh perkembangan, kemajuan teknologi, kultur tempat ia hidup. Supaya orang bebas, mesti dibuat semacam kontrak sosial. Tampaknya memang ironis sih: orang dipaksa dengan kontrak supaya bisa bebas.

Bacaan Injil hari ini menyajikan pengutusan murid-murid Yesus. Mereka diutus berdua-dua dengan rekomendasi supaya mereka melakukan traveling light, membebaskan diri dari aneka keribetan. Tentu bukan soal melepaskan diri dari keribetannya sendiri, melainkan soal efektivitas pelaksanaan misi mereka. Traveling light bukan jadi tujuannya sendiri, melainkan jadi sarana pewartaan tobat, pengusiran setan, dan penyembuhan orang sakit. Untuk zaman sekarang, mungkin traveling light tetap lebih ‘berat’ daripada dulu: mesti bawa alat-alat medis. Gak apa, yang penting masih lebih banyak alat medisnya daripada perlengkapan kosmetik untuk dandan dokternya!

Daud, di penghujung hidupnya, akhirnya menyerahkan seluruh kekuasaannya kepada Salomo, anaknya. Memang itulah saat baginya untuk meninggalkan semua orang dan segala hal. Ia yang punya kuasa begitu besar akhirnya di hadapan kematian menjadi sosok lemah, identik dengan rakyat jelata. Gak apa, toh kemiskinan, kekecilan, kesusahan orang bisa jadi sarana yang dipilih Tuhan untuk memenangkan rencana-Nya (bdk. 1Sam 2,1-10, Kel 3,11; 4,10 & Hak 7,2). Paulus juga bilang kurang lebih begitu (1Kor 1,27-29): yang bego’ di mata dunia malah dipakai untuk mempermalukan orang-orang terpelajar. Kenyataannya juga kerap kita jumpai begitu: yang cuma lulus SD bisa saja membuat sesuatu yang menyentak para ahli, entah yang memang tahu atau yang sok tahu, di dunia maya.

Wejangan Daud terhadap Salomo menarik. Ia tak kenal Jean-Jacques Rousseau, dan memang yang direfleksikannya bukan juga kontrak sosial untuk menjamin kebebasan orang. Ia menyarankan anaknya bukan pertama-tama supaya taat kepada hukum Musa demi ketaatan kepada hukum, melainkan supaya taat kepada kehendak Allah, yang dicontohkannya seperti yang tertera dalam hukum Musa. Jadi, pun kalau ia taat kepada hukum, bukan pertama-tama tidak bebas, melainkan justru karena secara bebas mau menaati kehendak Allah.

Bisa jadi semangat yang ditularkan Daud itu tak terpahami oleh umat beragama yang lupa bahwa kebebasan Allah melebihi aneka hukum yang dibuat oleh manusia. Maka, juga kalau orang mau mengklaim diri bebas setelah melanggar hukum (dengan dalih kebebasan beragama, berbicara, berpendapat, dan lain-lainnya), ia tak bisa mengelak dari pertanyaan apakah pelanggarannya itu dilakukan karena kebebasannya untuk mencintai Allah (yang terwujudkan pada kesejahteraan bersama), atau keterikatannya pada kepentingan dirinya sendiri atau kelompoknya sendiri.

Ya Tuhan, semoga rahmat-Mu membebaskan aku dari aneka belenggu yang sering tak tertangkap indra. Amin.


HARI KAMIS PEKAN BIASA IV C/2
Peringatan S. Yohanes de Britto (SJ)
4 Februari 2016

1Raj 2,1-4.10-12
Mrk 6,7-13

Posting Tahun Lalu: Jahatnya Dunia Lain

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s