Traveling Light

Dulu, katanya, ada filsuf-filsuf ‘religius’ yang punya kebiasaan mengemis dari pintu ke pintu (mengapa tidak dari pintu ke jendela?), yang tentu saja tak membawa macam-macam hal selain tempat yang mereka perlukan untuk meletakkan barang yang mereka dapatkan. Teks Injil hari ini menyodorkan wejangan Yesus saat mengutus kedua belas muridnya. Sarannya sih sederhana. Pokoknya, ini menyangkut soal traveling light. Para rasul itu dilarang membawa macam-macam hal yang malah merepotkan mereka dalam perjalanan (kalau merepotkan orang yang ditumpangi gakpapa gitu?).

Yang saya tak mengerti, kalau diusulkan suatu traveling light, lantas mengapa ada catatan “apabila kamu sudah diterima dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari situ”? (Luk 9,4 ITB) Apa gunanya traveling light tapi malah tinggal relatif lama di suatu rumah dan bukannya, seperti filsuf ‘religius’ zaman kuno itu, berjalan dari rumah ke rumah? Bukankah itu merepotkan orang yang ditinggali (menyediakan ini itu selama tamu tak diundang itu tinggal)?

Traveling light yang disarankan Yesus rupanya memang bukan dalam konteks mengemis makan. Ini adalah perjalanan ‘dinas’. Ini adalah tugas perutusan bermodalkan rahmat gratis dari Tuhan sendiri. Mereka tidak diutus untuk meminta-minta makan, tetapi untuk mewartakan kabar gembira dan penyembuhan atau pengusiran setan. Pewartaan ini kiranya lebih efektif dengan model getok tular. Para murid tak perlu mendatangi setiap orang di rumah mereka masing-masing, tetapi cukup tinggal bersama salah satu yang bisa menjadi saksi relevan untuk orang sekampung. Kesaksian macam itu lebih manjur daripada omongan dangkal ke sana kemari.

Peziarahan hidup yang disodorkan Yesus tidak semata-mata ditujukan untuk menghindarkan diri dari aneka kerempongan hidup, melainkan juga untuk efektivitas penyebaran warta gembira. Banyak orang mengira bahwa kaum biarawan/biarawati hidup selibat supaya mereka tidak direpotkan oleh kesibukan mengurus keluarga, lebih bebas, traveling light. Memang ada benarnya, tetapi pasti bukan alasan itu yang disodorkan oleh Injil. Kalau orang hidup selibat, tapi uring-uringan dan tidak happy dengan tugas perutusannya, ya podho wae sama saja. Begitu juga kalau orang hidup berkeluarga (dengan konsep dasar ‘bersama membangun desa’), tapi uring-uringan dan tidak happy dengan panggilan tugasnya, sami mawon uguale.

Jadi, traveling light yang disodorkan Yesus bukan soal easy going (yang tidak mau melihat pokok persoalan), melainkan soal menempatkan panggilan hidup sebagai tolok ukur yang dijalani dengan gembira hati.

Tuhan, mohon rahmat kesetiaan dan kegembiraan hati atas tugas yang Kaupercayakan kepadaku. Amin.


HARI RABU BIASA XXV B/1
Peringatan Wajib St. Padre Pio
23 September 2015

Ezr 9,5-9
Luk 9,1-6

Posting Tahun Lalu: Apa yang Terpenting?

3 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s