Mari Berkurban

Jika ditanya siapa anak yang dikurbankan Abraham dan diingat oleh begitu banyak umat beragama, apa jawaban Anda? Mungkin Anda menjawab Ishak, mungkin juga Ismael; bergantung pada info yang Anda terima, bergantung juga pada versi kebenaran yang Anda pahami, keyakinan yang Anda tanamkan dalam diri. Konon umat Islam meyakini itu adalah Ismael, sedangkan orang Yahudi dan Kristen mengatakannya Ishak. Jawaban saya sih belum berubah: tidak ada yang dikurbankan.

Di pertapaan Rawaseneng saya masih bisa menjumpai nama-nama sapi yang begitu bagus, tetapi toh saya tak berhasil mengingatnya sekarang. Maklum, saya tak punya relasi pribadi dengan sapi-sapi itu. Apalagi, mempertanyakan nama kambing atau sapi yang dikurbankan pada hari-hari ini, pasti jauh lebih sulit. Hewan kurban ini memang bukan pokok pentingnya. Penyembelihan hewan kurban itu juga bukan hal utamanya. Yang penting adalah hal yang hendak dikenangkan dengan penyembelihan hewan kurban itu.

Herodes Antipas (bukan Herodes Agung, yang membantai begitu banyak anak bayi pada masa kecil Yesus, Mat 2; juga bukan Herodes Agrippa yang secara tak langsung membunuh Rasul Yakobus, Kis 12) ‘menyembelih’ Yohanes Pembaptis pasti bukan untuk mengenangkan karya Allah dalam sejarah peradaban. Konon ia lebih sadis daripada pendahulunya tetapi rada-rada paranoid. Sudah membunuh Yohanes, tetapi begitu risau dengan kabar bahwa Yohanes telah bangkit dan sosoknya itu menjelma sebagai Yesus sehingga ia ingin sekali bertemu dengan Yesus (Luk 9,9). Kalau ia waras sedikit dan menonton film Mission Impossible misalnya, kiranya ia tahu bahwa penjelmaan yang ia takutkan itu hanya ada dalam film. Akan tetapi, dengan itu juga menjadi jelas bahwa membunuh nabi Allah tidak menghentikan sejarah keselamatan Allah karena memang Allahlah yang merajut sejarah.

Saya tak tahu apakah yang hendak dikurbankan Abraham itu Ishak atau Ismael. Siapapun itu, yang hendak dikenangkan adalah ketaatan Abraham kepada Allah. Ketaatan inilah yang menuntun orang beriman pada kurban syukur, bukan kurban hukum, apalagi kurban tabrak lari. Hanya dalam ketaatan iman ini, seseorang berani berkurban justru karena rasa syukurnya, bukan (hanya) bersyukur karena sudah kaya, sudah dapat pekerjaan, status, jabatan, atau mampu bagi-bagi hewan kurban. Benarlah kata orang: rasa syukur itu membahagiakan.

Maka, bisa jadi, orang yang baru bersyukur setelah mengalami kegembiraan sana-sini, kebahagiaannya semu, seperti dialami Herodes Antipas. Rasa syukur tidak hanya membahagiakan, tetapi juga membuka ruang bagi orang beriman untuk berkurban. Tanpa rasa syukur, orang jadi (kambing) kurban (keadaan).

Tuhan, aku percaya Engkau terlebih dahulu menyelamatkan aku supaya aku mampu berkurban dan melakukan kebaikan. Semoga aku tak dihantui oleh ide untuk berkurban dan berbuat baik supaya Kauselamatkan. Amin.


HARI KAMIS BIASA XXV B/1
(Idul Adha)
24 September 2015

Hag 1,1-8
Luk 9,7-9

Posting Tahun Lalu: Memuaskan tetapi Sia-sia…Hadeh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s