Memuaskan tapi Sia-sia… Hadeh…

Pada benak kita ada kelebatan hasrat untuk memenangkan yang baik: ingin pahlawan menang, inginnya film itu gak nggantung ending-nya dan kejahatan dikalahkan, ingin tokoh antagonis celaka. Hasrat itu tak hanya tertuju pada film, tetapi juga pada kenyataan hidup: inginnya pentolan-pentolan ISIS itu dikumpulkan di satu tempat dan dibom saja atau digiling di drum besar sampai halus, maunya tetangga sebelah yang suka geber knalpot malam-malam itu dilindas truk aja, atau berharap supaya kelompok fundamentalis itu dimakan binatang buas!

Akan tetapi, hasrat seperti itu juga sebenarnya ada dalam diri sosok-sosok ‘antagonis’ justru karena mereka merasa tujuan mereka baik, sebagaimana kita juga meyakini keinginan kita itu baik. Bahkan, mereka sudah punya perlengkapan untuk merealisasikan hasrat mereka itu: senjata, suara keras, gerombolan, uang, dan sebagainya. Di situlah persoalannya. Klaim kebenaran yang dibarengi dengan kekerasan runtuh dengan sendirinya. Bayangkanlah, mengajari cinta kasih kepada anak-anak dengan terus menerus membentak, menghukum, menampari atau menempelenginya! Ini memuaskan hasrat tadi, tetapi sia-sia.

Herodes mendapatkan kepuasan setelah membunuh Yohanes, sesuai dengan skenario Herodias, tapi kepuasan itu gak tahan lama. Ia risau dengan rumor yang beredar bahwa Yohanes bangkit.

Ini mengingatkan kita pada kisah Romero. The struggle for peace and freedom, justice and dignity goes on. Kekuatan penentang perdamaian dan kebebasan, keadilan dan martabat manusia senantiasa ada bersama kekerasan: menyalibkan Yesus, membunuh Romero, jutaan martir, aktivis ’98, berupaya membunuh gadis Malala Yousafzai. Romero sendiri sudah mencium risiko kematiannya: I’ve often been threatened with death. If they kill me, I shall rise in the Salvadoran people. Let my blood be seed of freedom in the sign that hope will soon be reality. A bishop will die, but… God… will never perish.

Begitulah kenyataannya. Ini semua proyek keselamatan Allah sendiri. Romero mati, dan kesadaran orang akan kebenaran semakin terkuak. Junta militer mungkin puas (ala Tukul Arwana) membunuh Romero, tetapi sia-sialah upaya mereka untuk membungkam kebenaran. Katakanlah ISIS puas menghabisi sandera mereka, dan mungkin mereka menguasai minyak di kawasan Arab, tetapi sia-sialah upaya mereka. Hal serupa berlaku untuk sekutu yang mau menghabisi ISIS. Mereka mungkin senang jika berhasil melakukannya, tetapi dengan itu tak bisa memutus rantai kekerasan.

Bahkan seandainya kekerasan mereka tidak lagi dibalas oleh sekutu atau simpatisan ISIS, mereka belum selesai dengan pe er mereka untuk menyudahi kesia-siaan: mata tidak kenyang melihat, telinga tidak puas mendengar (Pkh 1:2). Mereka bisa cari objek lainnya dan terus mengejar kesia-siaan… dan kabar buruknya: mereka, bukan hanya Jokowi dan Malala, adalah kita!


KAMIS BIASA XXV A

Pkh 1,2-11
Luk 9,7-9

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s