Mari Berkurban Hari Kedua

Teks Injil hari ini bicara soal hari raya kurban hari kedua. Kok isa? Ya bisa saja, tapi gak usah serius-serius amat mikirnya. Kalau kemarin posting berjudul Mari Berkurban bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha, seperti beberapa hari raya lainnya di Indonesia, boleh dong hari ini jadi ajakan untuk berkurban hari kedua, dan itu secara eksplisit dituliskan: Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh… (Luk 9:22 ITB). Ini bukan kambing atau sapi lagi yang dikurbankan, melainkan pribadi manusia.

Kurban macam ini tak dikehendaki oleh orang pada umumnya. Entah orang baik atau jahat, mereka berupaya sedemikian rupa supaya orang-orang dekatnya atau dirinya tak jadi korban. Sebagian orang egois, menghindarkan diri supaya tak jadi kurban sehingga orang lainlah yang jadi korban. Sebagian lagi altruis, yang tak menginginkan orang lain jadi korban. Pokoknya, sebisa mungkin semakin sedikit orang yang dikurbankan. Begitulah umumnya dipikirkan orang.

Maka, tak mengherankan bahwa Yesus melarang Petrus, yang mulai menangkap identitas Yesus, berkoar-koar mengenai Yesus sebagai Mesias. Maklum, setiap orang menantikan sosok mesias dalam caranya masing-masing. Ada yang mengharapkan presiden baru, pastor baru, hakim baru, petugas KPK baru, dan sebagainya, tetapi tampaknya gak ada yang menantikan sosok Mesias hamba seperti dinubuatkan dalam Kitab Yesaya 42. Petrus pun belum sepenuhnya memahami identitas kemesiasan Yesus, seperti kiranya banyak orang menyebut Yesus sebagai juruselamat, tapi gak ngerti juga apa yang dimaksud juruselamat selain slogan “menyelamatkan manusia dari dosa”.

Pemahaman utuh dari kemesiasan Yesus mengandaikan proses kemuridan: orang nyantrik, mengikuti lifestyle yang dihidupi Yesus. Pemahaman ini gak bisa diperoleh dengan instruksi teoretis, tetapi lewat komitmen praktis, berjalan bersamanya sepanjang jalan pelayanan. Maka, jalan kemuridan, jalan nyantrik Yesus itu adalah jalan penyerahan diri, pengasingan, pelayanan, konflik, penderitaan yang menjadi salib. Salib bukanlah kecelakaan dalam perjalanan itu, melainkan bagian dari perjalanan itu sendiri. Mudah saja, jika dunia dibangun dari kepentingan egoisme, cinta dan pelayanan hanya mungkin eksis dengan penderitaan. Petrus baru memahami secara penuh setelah peristiwa Yesus (hidup sengsara-wafat-bangkitnya) dan ia sendiri mengalami konsekuensi kemuridan itu.

Ahok adalah salah satu contoh yang hidupnya dijiwai oleh roh semacam itu. Ia pernah mengutip kata-kata Paulus mengenai kematian sebagai keuntungan. Katanya, ia belum merasa safe dengan “hidup adalah Kristus” (tentu saja, siapa yang bisa merasa begitu PD-nya bahwa hidupnya benar-benar dirasuki Kristus?) sehingga ia hanya menekankan bahwa mati adalah keuntungan. Pengandaiannya, kematian itu adalah konsekuensi hidup dari Kristus tadi. Saran Ahok pun sederhana dan masuk akal: orang mesti connect dengan Sang Pencipta. Bagaimana connect-nya? Dengan membaca Kitab Suci setiap hari! (Wa ini… mirip dengan yang dikatakan Ayu Utami bahwa ide kreatifnya menulis berasal dari keakrabannya dengan Kitab Suci). 

Tentu saja, karena Kitab Suci dan penafsirannya juga beragam, setiap orang pada akhirnya mesti membuka wawasannya dengan dialog supaya sungguh-sungguh nemu apa yang kiranya paling dekat dengan kehendak Tuhan sendiri. Ngerinya, kehendak Tuhan itu lebih sering menuntut pengurbanannya daripada sekadar hok ya hok ya…

Tuhan, mohon rahmat keluasan hati untuk rela berkorban. Amin.


HARI JUMAT BIASA XXV B/1
25 September 2015

Hag 2,1b-9
Luk 9,18-22

Posting Tahun Lalu: Seperti Apa Roda Hidupmu?

2 replies