Korban Ketiga

Maaf, sambil mendoakan para korban tragedi Mina, tiga hari berturut-turut omong soal korban. Sepertinya mengada-ada, tetapi (selain tiga malam berturut-turut mendengar suara takbir) memang bacaan hari ini omong soal yang berbau-bau korban gitu deh. Kemarin rumusan teksnya berbunyi: Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh… Hari ini bunyinya: Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia.

Konteksnya beda. Yang pertama disampaikan Yesus setelah ia minta pendapat mereka mengenai identitas dirinya. Yang kedua disampaikannya saat murid-murid itu masih terperanjat oleh pengusiran roh jahat, eksorsisme, yang dilakukan Yesus. Keduanya jadi catatan terhadap konsep juru selamat atau mesias: bukan konsep struggle for the fittest. Ada julukan lain yang dipakai oleh Yesus: Anak Manusia. Julukan ini muncul kira-kira 83 kali (mohon dicek sendiri kalau sempat ya): 30 kali pada Injil Matius, 28 kali pada Lukas, 13 Markus dan berapa kalikah pada Injil Yohanes? Betul, pinter.

Julukan itu berasal dari kitab-kitab sebelumnya: Kitab Daniel dan Yehezkiel. Pada Yehezkiel julukan itu mengacu pada sifat manusiawi sang nabi. Dalam penglihatan Daniel, ada empat kerajaan yang berpenampilan sebagai “binatang mengerikan”; kerajaan hewan, brutal, tak manusiawi, bunuh membunuh. Setelah itu, Kerajaan Allah muncul, bukan dengan penampilan binatang, melainkan sosok manusia, yaitu Anak Manusia. Ini adalah sebuah kerajaan manusia, yang mempromosikan kehidupan, memanusiakan manusia. Anak Manusia bukan individu, melainkan umat Allah, yang hendak membangun Kerajaan Allah dalam kewajaran hidup manusia.

Lha, sepertinya murid-murid pun tak paham-paham amat dengan julukan yang disukai Yesus itu. Maklum, mereka sedang mengalami euforia karena pengusiran roh jahat yang baru saja mereka lihat. Euforia memang berisiko menimbulkan distorsi. Untuk para murid saat itu distorsisnya menyangkut soal gambaran mesias. Maka dari itu, Yesus omong lagi soal konsep mesias yang dibawanya, yang tak mudah diterima oleh bahkan para rasul sendiri.

Orang zaman ini juga bisa jauh dari apa yang disodorkan Yesus karena terlalu puas diri, terlalu kaku dengan tradisinya, terlalu buta dengan keyakinannya. Tak heran, pengikut Kristus pun bahkan tak mengerti yang disodorkan Yesus. Problemnya bukan bahwa orang tak mengerti kata-katanya (yang bisa dipelajari di sana sini), melainkan bahwa orang tak menangkap substansi misi Yesus, kabar gembiranya (mikirnya terlalu simpel bahwa Yesus menyebarkan agama): keselamatan muncul dari pengorbanan diri di salib. Tapi, piye ya? Mosok juru selamat kalah? Kekalahan jagoan bisa jadi batu sandungan dan kebodohan bagi orang modern.

Orang boleh punya penilaian apa saja tetapi mesti mawas diri soal kedekatan dengan hati dan pikiran Allah. Tanpa kedekatan dengan Tuhan, yang dilakukan orang bukan pengorbanan, melainkan penggombalan berorientasi tongsis (yang di beberapa tempat sudah dilarang). Kata seorang kawan, kata korban berasal dari kata qurubah yang bermakna mendekatkan diri kepada Tuhan, manusia, dan alam. Tujuannya ialah melepas sifat hewani supaya menjadi manusia sebenar-benarnya. Ini cocok dengan vision Daniel dan prediksi Yesus: butuh pengorbanan untuk memanusiakan manusia, bukan karena struggle for the fittest, melainkan karena binatang jalang memang senantiasa mengintai.

Tuhan, semoga Kau beri kekuatan untuk menjadi Anak Manusia. Amin.


HARI SABTU BIASA XXV B/1
26 September 2015

Za 2,1-5.10-11a
Luk 9,43b-45

Posting Tahun Lalu: Makan, Sensasi atau Butuh?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s