Makan: Sensasi atau Butuh?

Aktivitas apa yang gak enak dilakukan waktu tua dan aneh jika dilakukan waktu muda? Salah satunya: diet! Beberapa orang tua tak punya masalah dengan diet dan bikin iri orang lain: makan apa saja dan sebanyak apa saja kok ya tetap kurus dan tak punya masalah dengan kolesterol. Padahal, orang lain makan separuh porsi nasi goreng pun perutnya sudah menggelembung esok harinya. Hiksss… mendengar abang penjual nasi goreng memukul-mukul penggorengannya saja sudah bikin perut gak bisa diem memprovokasi air liur di mulut!

Bacaan-bacaan hari ini menyodorkan tema ironis. Pengkotbah bilang: sana nikmatilah masa mudamu sebelum tua, tafsirkanlah carpe diem semaumu mumpung masih muda, dan atas dasar itulah nanti kamu divonis waktu tua menjelang ajal! Ini kok nadanya nglulu (tak ada terjemahan dalam bahasa Indonesia) ya? Sementara itu bacaan Injil menunjukkan ironi dalam paham mesias: ketika orang takjub atas perbuatan besar Allah, si aktor perantara perbuatan besar itu justru menyatakan kekecilan dirinya di hadapan manusia karena ia akan diserahkan ke tangan manusia, alias ditangkap. Loh, nabi besar kok malah omong soal ‘kekalahan’? Utusan Allah kok malah pesimis gitu sih di hadapan manusia yang amburadul begini?

Ironi seperti itu tak terpahami oleh murid-murid Yesus yang berorientasi sukses: lha ini, punya pemimpin yang joss, pasti kita akan bisa bikin bangsa yang kuat, termasuk untuk melawan bangsa penjajah!  Meskipun tak paham, mereka toh tak berani bertanya: takut kalau mimpi indah mereka hancur! 

Pengkotbah memberi solusi: nostalgia itu gak produktif, masa depan juga ilusif, maka jangan terlalu konsumtif! Weh, ngawur, gak ada tuh tulisan itu di Pengkotbah dengan kesimpulan jangan konsumtif! Ya memang, itu cuma demi mempertahankan ‘if’ di akhir kata kok, dan saya juga tidak hobi memberi nasihat moral (mendengarnya saja bisa mual). Tetapi, hubungannya ya bisa dilihat kok.

Seturut logika Pengkotbah, sikap yang realistis adalah fokus pada kekinian (hic et nunc), maka muncul slogan carpe diem! Petiklah hari ini, nikmatilah, tetapi bukan dalam arti hedonis. Menikmati masa muda itu juga dalam kerangka menuju masa tua (meskipun belum tentu sampai tua juga hidupnya). Konkretnya: daripada menunggu sampai tua untuk mulai diet, mengapa tidak mulai diet saja sejak muda? Apa artinya diet masa muda? Makan apa-apa saja yang menyenangkan tapi secara proporsional, sehingga kelak kalau tua pun tetap bisa makan apa-apa saja yang menyenangkan, tidak cape’ diem melototin makanan yang menggiurkan!

Ini bukan semata soal makan memakan. Saya ingat kata-kata bijak yang barangkali berasal dari hadits Nabi Muhammad: makanlah sebelum lapar dan berhentilah makan sebelum kenyang. Versi persisnya masih bisa diperdebatkan, tetapi saya menangkap poinnya: askese, self-negation, ingkar diri! Umumnya orang menanti lapar dulu baru makan. Tetapi, lapar adalah sensasi. Kalau orang sungguh peduli pada tubuhnya, ia memperhatikan kebutuhan metabolisme tubuh, bukan sensasinya. Makan sebelum merasa lapar itu tak menggairahkan. Berhenti makan sebelum kenyang juga tak memuaskan. Ini contoh kecil askese, semangat ugahari, yang bertentangan dengan jiwa konsumtif!

Pesan sponsor: tanpa askese, tak ada kemajuan hidup rohani juga.


SABTU BIASA XXV
Peringatan Wajib Santo Vinsensius a Paulo
27 September 2014

Pkh 11,9-10;12,1-8
Luk 9,43b-45

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s