Jangan Sewot Dulu…

Pada facebook saat menjelang hari raya keagamaan bisa terdapat status yang seperti ini: kepada teman-teman muslim, selamat merayakan Idul Adha. Tak ada yang salah dengan status macam itu, tetapi saya merasa ada yang mengganjal: memangnya yang merayakan lebaran cuma orang Islam; emangnya yang merayakan natal cuma orang Kristen; apa yang merayakan nyepi itu cuma orang Hindu?

Kalau menjawab ya (cuma orang Islam yang merayakan lebaran, misalnya), orang menunjukkan sikap eksklusif agama. Jika jawabannya negatif (yang merayakan nyepi bukan cuma orang Hindu, misalnya), si penjawabnya mungkin menyatakan karakter inklusif dari iman. Tak ada informasi baru di sini: agama cenderung eksklusif, iman lebih inklusif. Trus kenapa, elu punya masalah dengan agama eksklusif? Kagak sih, kalau orang beragamanya gak eksklusif. Kalau penganutnya juga eksklusif, ya itu yang bikin aneka pertikaian bahkan perang dari dulu gak selesai-selesai.

Teks Injil hari ini menuturkan murid Yesus yang sewot karena ada orang lain mengusir setan dengan memakai nama Yesus. Murid ini melarang orang itu karena dia bukan kelompok pengikut Yesus. Maklum, murid Yesus yang sewot ini memang dasarnya ya eksklusif. Ini terlihat juga dari reaksinya ketika mereka ditolak di wilayah ‘kafir’, ia bereaksi begini,”Yesus, apakah engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?” (Luk 9,54) Inilah masalahnya: mentalitas eksklusif pengikut Yesus.

Pada masa itu sudah jamak bahwa eksorsis (pengusir setan) memakai nama orang-orang besar untuk memperlancar proses eksorsisme. Konon yang laris namanya adalah Salomo alias Nabi Sulaeman. Nah, sewaktu Yesus sudah mulai berkarya, ternyata ada orang-orang yang mengetahui bahwa Yesus bisa membuat aneka mukjizat, termasuk mengusir setan. Maka mulailah mereka juga menyebut nama Yesus untuk eksorsisme itu.

Celakanya, dikisahkan dalam perikop sebelum bacaan hari ini, para murid Yesus itu dibekali kekuatan untuk mengusir setan tetapi pada kenyataannya mereka kepentok dengan satu kasus: mereka tak bisa mengusir setan yang merasuki seorang anak (Mrk 9,18). Mereka bertanya pada Yesus kenapa dan Yesus menjawab bahwa jenis itu hanya bisa diusir dengan berdoa (Mrk 9,29). Hahaha… berarti murid-murid itu tidak berdoa! (Memang gak ada jaminan bahwa murid Yesus itu berdoa…)

Bisa dirasa-rasakan kesewotan murid itu. Ia sudah diberi kekuatan untuk mengusir roh jahat, ternyata gagal. Sementara orang lain yang bukan pengikut Yesus malah memakai nama Yesus dan bisa mengusir roh jahat. Asem ikTrus apa gunanya jadi pengikut Yesus?! Sewotlah murid itu dan melarang orang lain yang bukan pengikut Yesus untuk mengusir setan.

Padahal, kalau ia mau sedikit rendah hati, ia bisa mawas diri dengan jawaban Yesus tadi. Jenis itu tak bisa diusir tanpa berdoa. Apa yang menghambatnya untuk berdoa? Mereka sendiri kerasukan roh jahat: hasrat untuk mendominasi, membuat klaim eksklusif untuk kebenaran, nama besar, mau mengontrol segala-galanya, baik tujuan dan sarananya. Tidak semua tujuan harus ditempuh dengan sarana yang sama. Begitu pula, iman kepada Allah yang Maha Esa dan Maha Besar, tak mungkin hanya diwujudkan dalam satu agama.

Jadi, Idul Fitri, misalnya, memang dirayakan oleh umat Islam setelah menjalankan ibadah puasa sebulan penuh. Akan tetapi, umat agama lain bisa ikut merayakan substansi Idul Fitri sendiri (meskipun tidak ikut berpuasa sebulan penuh). Begitu juga hari Natal umat Kristen, memang dirayakan sebagai hari kelahiran penyelamat, tetapi umat agama lain, dengan caranya sendiri, bisa ikut merayakan substansi Natal: Allah yang mahabesar itu benar-benar mau hadir dalam hidupku, dalam hatiku, dan seterusnya. Yang beragama Kristen merayakannya dengan ibadah tertentu, tetapi ibadah itu hanyalah satu cara untuk merayakan kehadiran Allah di dunia ini. Di sini tak ada tempat untuk mentalitas fanatisme sempit atau radikalisme. Ini bukan ranah agama, ini soal iman.

Tuhan, bantulah aku supaya mampu melihat kehadiran-Mu juga dalam agama dan tradisi yang berbeda. Amin.


HARI MINGGU BIASA XXVI B/1
27 September 2015

Bil 11,25-29
Yak 5,1-6
Mrk 9,38-43.47-48

Hari Minggu Biasa XXVI A/1: Walk Out gak eaaa…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s