Pancen Ironis…

Ironi bisa terjadi dalam berbagai aspek hidup orang dengan aneka penyebabnya. Misalnya, mahasiswa mengantuk lalu melontarkan pertanyaan yang jawabannya persis dipaparkan saat ia mengantuk tadi. Contoh lain yang lebih panjang: seorang teman pernah bekerja di wilayah yang dulu menjadi tempat operasi militer dan warganya sudah terbiasa dengan respon “Siap, Pak!” Maka, dalam aneka pertemuan dengan warga setempat, ia seringkali mendapat tanggapan dengan kalimat seru seperti itu.

Lama-lama teman saya ini merasa jengah dan perlahan-lahan ia membuka identitasnya kepada warga yang dikunjunginya. Ia menjelaskan kepada warga bahwa ia adalah seorang pastor dan ia tidak ingin warga memperlakukannya seperti seorang tentara dengan ungkapan “Siap!” itu tadi. Warga itu mengangguk-angguk dan terlihat menjadi cair karena tahu bahwa yang ada di hadapannya adalah seorang gembala umat. Maka teman saya ini memberi penegasan kembali. “Jadi, Bapak kalau omong-omong dengan saya, tak usah memakai ungkapan-ungkapan yang berbau kemiliteran itu ya.” Dan jawab warga itu ialah….”Siap, Pastor!”

Teks Injil hari ini seperti pengulangan teks kemarin, tetapi sumbernya berbeda. Yang dibacakan kemarin berasal dari tulisan Markus, sedangkan hari ini dari Lukas. Mulai dari penyebab mengapa para murid tak bisa mengusir roh jahat (padahal mereka sudah diberi kekuatan untuk itu): mereka sendiri sudah terpengaruh oleh roh jahat, yaitu dengan wacana siapa yang terbesar atau terhebat dari mereka. Roh jahat bekerja dengan cara memecah belah dan persis pertengkaran para murid itu menjadi wujud kerja roh jahat. Dalam istilah yang dipakai seorang teman yang berkotbah kemarin, para murid tenggelam dalam sikap elitisme.

Yesus tentu tahu betul orientasi para muridnya, lalu ia mengambil seorang dan berkata kepada mereka,”Barangsiapa menyambut anak ini dalam namaku, ia menyambut aku; dan barangsiapa menyambut aku, ia menyambut Dia, yang mengutus aku. Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar.” (Luk 9,48 ITB) Ini bukan soal paradoks orang kecil menjadi yang terbesar dan orang besar menjadi yang terkecil. Anak kecil diambil Yesus untuk menunjukkan sikap yang tertera pada keset: welcome. Orang yang punya sikap macam ini tidak hendak menempatkan diri dalam semangat elitisme: siapa saja silakan datang (tentu bukan soal menghalalkan segala cara).

Delapan ayat bacaan pertama hari ini memuat tujuh frase ‘Tuhan semesta alam’. Ini memang terjemahan gampangnya, tetapi sebetulnya dalam bahasa yang dekat dengan aslinya, frase itu memuat pengertian Allah sebagai pengatur, penguasa segalanya. Sikap welcome tadi dianjurkan Yesus kepada murid-muridnya: bahwa Allah yang menguasai dan mengatur segalanya itu bisa melakukannya dengan aneka macam cara. Cara yang kita punya tak pernah bisa kita jadikan karung atau jaring untuk meringkus cara Allah menjadi Tuhan semesta alam itu. Dengan kata lain, pengikut Kristus mestilah menyambut baik siapapun yang punya kehendak baik bahkan meskipun mereka dengan sadar menolak untuk memeluk agama tertentu! Sikap welcome macam ini menghindarkan orang dari semangat elitisme.

Tapi apa lacur, reaksi para murid Yesus malah jadi ironis. Setelah diberi penjelasan mengenai sikap welcome itu, mereka tak lagi omong soal siapa yang paling jago dari mereka, tetapi toh secara substansial menunjukkan kecenderungan roh jahat yang sama: kok ada orang lain yang tidak mengikuti engkau tapi memakai namamu untuk mengusir setan, maka kami cegah! Ini bukan lagi sikap diskriminatif orang per orang. Mereka mulai menerapkan sikap elitisme secara kelompok: seolah-olah ada kelompok yang lebih baik dari kelompok yang lainnya dalam pergumulan menjadi umat Allah…. dalam kesetiaan dan kebenaran (Za 8,8 ITB). Janjane elu enjoy gak sih dengan cara yang kamu hidupi untuk mengabdi Tuhan dan sesama?

Ya Tuhan, berilah aku rahmat keterbukaan bahwa Engkau hadir dalam sesama ciptaan dan ketekunan untuk memujimu dalam setiap perjumpaan dengan sesama ciptaan itu. Amin.


HARI SENIN BIASA XXVI B/1
28 September 2015

Za 8,1-8
Luk 9,46-50

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s