Agama Yang Lebih Baik? Gak Ada!

Teks Injil hari ini berisi perumpamaan lagi. Kenapa Yesus demen banget pakai perumpamaan? Nanti tanya sendiri ya, tetapi memang perumpamaan bisa efektif untuk pewartaan misteri Allah. Sayangnya, kebanyakan orang mengukur efektivitas dengan tolok ukur hasil, bukan proses. Lebih banyak orang yang cenderung maunya terima jadi: udah apa deh kehendak Allah itu, nanti saya jalankan! Ini ironis, orang mau beriman tapi minta detail tentang apa yang harus diputuskannya, apa yang harus dipilihnya, apa yang harus dilakukannya! Kalau orang mau bicara mengenai misteri Allah dengan petunjuk detil untuk ini itu, ia tidak bicara mengenai Allah yang misteri, melainkan bicara soal teknik dan Allah jadi objek pikirannya sendiri, bukan pribadi yang berelasi.

Perumpamaan merangsang orang untuk memahami apa yang ada di balik teknik itu, menggunakan apa yang kelihatan (dan bisa diketahui orang) untuk menangkap apa yang tak kelihatan (dan belum diketahui orang). Yesus terampil menggunakan imaji-imaji sederhana untuk membandingkan hal-hal yang penuh misteri ilahi dengan hal-hal yang diketahui dan dialami orang dalam pergumulan hidup sehari-hari. Pengandaiannya, ia akrab dengan dua hal itu: yang bisa diketahui oleh teknik dan yang ada di balik pengetahuan teknis itu. Lha, hebatnya, sebagai guru misteri ilahi, Yesus tidak berlagak seperti orang hebat yang tahu segala-galanya dan memberitahu segala-galanya kepada setiap orang. Ia mengundang pendengarnya untuk menghubungkan apa yang mereka ketahui dengan Kerajaan Allah yang diwartakan Yesus. Perumpamaan masuk ke dalam hati dan mendorong orang untuk mendengar alam keseharian dan berpikir mengenai misteri kehidupan. 

Yesus percaya bahwa kepada setiap orang diberikan modal awal untuk menangkap makna perumpamaan, menangkap Sabda Allah. Perumpamaan tentang benih ini sedemikian penting sehingga Yesus memberi rambu-rambu penjelasan, seolah-olah kalau tidak paham perumpamaan ini, orang juga gak bakal paham perumpamaan yang lainnya. Kenyataannya memang perumpamaan ini bicara mengenai bagaimana orang mendengarkan Sabda Allah.

Unsur pertama dalam perumpamaan hari ini ialah penabur benih yang begitu murah hati menabur ke mana saja (tidak pilih-pilih tempat yang lebih subur). Bagi Yesus, tak ada tanah yang tak cocok untuk menerima Sabda Allah. Tanah itu ialah hidup setiap orang, apapun kultur, etnis, agamanya. Meskipun demikian, segera perlu dicatat bahwa perumpamaan ini tidak bicara soal klasifikasi jenis tanah yang baik atau yang buruk; seolah-olah ada orang yang bertanah buruk saja, atau bertanah baik saja. Pada kenyataannya, masing-masing orang merepresentasikan semua jenis tanah itu dari waktu ke waktu: kadang berbatu, kadang berduri, kadang subur, dan sebagainya. Tidak hanya itu, jenis tanah ini juga bisa diterapkan untuk agama, sehingga tak bisa dijadikan alasan untuk mengatakan bahwa ada agama yang lebih baik dari agama lainnya. Minimal dari tinjauan sejarah, bisa dilihat bahwa ada masanya agama jadi batu nan keras dan malah jadi bagian dari masalah lebih daripada bagian pemecahan masalah.

Agama bisa menjadi bagian pemecahan masalah dunia ini jika ia punya keterbukaan dan ketekunan untuk dari waktu ke waktu memperbaharui tafsirannya terhadap teks sakral yang dihidupinya. Ini tak terjadi kalau orang-orangnya, membaca Kitab Suci pun tak pernah, haaaa…. Maaf, ini bulan Kitab Suci Nasional.

Tuhan, semoga aku semakin Kaumampukan menangkap Sabda-Mu dalam pergumulan konkret hidupku sehari-hari. Amin.


HARI SABTU BIASA XXIV B/1
19 September 2015

1Tim 6,13-16
Luk 8,4-15

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s