Kau Kira Yesus Tak Punya Masalah?

Ada momen dalam sejarah relasi pertemanan, persahabatan, cinta, atau bahkan sekadar kerja sama, ketika tak ada suasana saling pengertian. Ini bukan karena Anda tidak mencintainya atau tidak akur. Ini semata karena Anda tak bisa memahami, karena mereka bicara dengan bahasa yang berbeda, dalam ‘saluran’ yang berbeda. Apa yang melanggengkan suasana seperti itu?

Mari lihat cerita Injil hari ini. Yesus mengungkapkan prediksi mengenai derita sengsara yang akan dihadapinya. Ini bukan kali pertama. Sebelumnya sudah ia katakan soal itu dan bahkan ia menghardik Petrus yang berlagak seperti hendak jadi pahlawan buat Yesus. Akan tetapi, juga pada penyampaian kali ini, murid-murid tidak mengerti. Memang beda level atau channel tampaknya. Yang dimaksud Yesus mengenai Anak Manusia apa, yang dimengerti para murid tentang anak manusia juga apa. Gak sambung dah pokoknya.

Lha, kalau mau cari-cari kesalahan, siapa yang paling bertanggung jawab atas situasi ketidaksambungan itu? Bukan karena mau membela Yesus (sekali lagi, ia bisa membela dirinya sendiri), tetapi tampak jelas bahwa kebebalan para murid membuat masalah Yesus tak kunjung usai. Yesus sudah mencari aneka cara untuk menyampaikan prediksinya, untuk mengatakan kepada murid-muridnya bahwa Mesias yang sesungguhnya bukan Mesias yang membebaskan orang dari aneka penderitaan fisik. Bahkan, bisa jadi orang mesti menempuh penderitaan fisik itu untuk menyelamatkan jiwanya. Problemnya, para murid tidak tune in, tidak update dekoder mereka: mereka tak mengerti, tapi segan bertanya. Ketika ditanya soal apa yang mereka percakapkan pun, mereka diam.

Murid macam mana pula tak mau bertanya atas hal yang tak diketahuinya? Mahasiswa macam apa juga yang waktunya diminta omong untuk merepresentasikan dirinya malah diam saja? Betapa arogan: tak mau diketahui kelemahannya, maunya sempurna dan kesempurnaan itu tak membutuhkan input dari orang lain, bahkan guru sekalipun!

Loh, kok malah marah toh, Romo?
Gak marah sih. Gemes. Sekarang saya berpikir lain. Mungkin sebetulnya para murid sudah mengerti prediksi Yesus. Ini lebih parah lagi. Mereka mengerti prediksi Yesus, tetapi gak mau lagi mendengarkan penjelasannya. Ini tampak lebih masuk akal. Wilayah tempat asal para murid memang akrab dengan motif perlawanan terhadap penjajah Romawi. Ide kekalahan tak pernah bisa diterima. Maka prediksi penderitaan juga tak masuk dalam kepala mereka. Itu tidak enak. Orang tak tahan dengan penderitaan.

Yesus toh tetap mengajar para murid. Sepertinya ia tahu bahwa selama di jalan para murid ribut omong soal siapa yang paling besar di antara mereka untuk mewujudkan kemerdekaan bangsa mereka. Sewaktu ditanya mereka omong apa, mak thung thung pes… diam seribu bahasa (ngono kok arep dadi pemimpin). Yesus menjungkirbalikkan logika para murid mengenai siapa yang terbesar. Dalam Kerajaan Allah, orang tak bisa bernalar seturut pikiran manusia untuk menjadi ‘Anak Allah’ karena ‘Anak Allah’ itu hanya masuk akal dalam terang salib, dalam penderitaan makhluk ciptaan (Kalau Allah masuk dalam dunia ya sudah pasti menderitanya, lahir batin).

Kalau begitu, dalam pandangan Allah, orang perlu berusaha menjadi ‘anak manusia’, anak-anak kemanusiaan yang menjadi pelayan bagi sesama. Dalam arti ini, orang lain mesti diletakkan pada pusat: dari yang terakhir, yang paling lemah. Masalah yang dihadapi Yesus: tak sedikit orang yang merasa dirinya paling lemah, paling punya problem, paling susah hidupnya, dan sejenisnya. Akibatnya? Alih-alih fokus untuk melayani, orang terus menerus minta dilayani!

Tuhan, di hadapan penderitaan salib-Mu, semoga aku tak menjadi lebay dengan aneka kebutuhanku untuk diperhatikan, dilayani, diterima, dan dapat fokus pada tugas pelayananku. Amin.


HARI MINGGU BIASA XXV B/1
20 September 2015

Keb 2,12.17-20
Yak 3,16-4,3
Mrk 9,30-37

Hari Minggu Biasa XXV A/1: Apa Enaknya Kerja?

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s