Pendosa tapi Dipanggil

Kemarin muncul cover majalah Der Spiegel yang mengundang senyum berkenaan dengan tragedi kemanusiaan yang terjadi di Eropa belakangan ini. Bahkan tanpa basic Bahasa Jerman, sejauh orang punya cukup pengetahuan umum, ia bisa mengerti bahwa Mutter Teresa dimirip-miripkan dengan Mutter Angela (Merkel). Memang sama-sama perempuan, tetapi yang dibandingkan terutama adalah soal sikap penerimaan mereka terhadap orang-orang yang tersingkirkan. Angela Merkel seolah-olah ditampilkan sebagai sosok Mother Teresa di Eropa yang bersimpati pada homeless people akibat perang.

Gereja Katolik hari ini memestakan Santo Matius, penulis Injil. Gak usah repot-repot ngoyoworo soal siapa penulis Injil (Allah atau manusia) dan ada berapa Injil, pokoknya pada hari ini kalender liturgi menyisipkan bacaan dari Injil Matius di tengah-tengah jadwal Gereja untuk menekuni bacaan dari Injil Lukas. Beberapa waktu lalu disodorkan ajaran Kotbah di Bukit, versi Lukas. Matius juga punya bagian mengenai Kotbah di Bukit (bab 5-7). Hari ini ditampilkan narasi yang menunjukkan bagaimana Yesus mempraktikkan apa yang diajarkannya dalam Kotbah di Bukit itu.

Dalam Kotbah di Bukit ia mengajar para pendengarnya soal penerimaan, dan ajaran itu dipraktikkannya dalam sikap penerimaan terhadap orang kusta dan orang asing, perempuan, orang sakit, orang kerasukan, orang lumpuh, pemungut cukai, pendosa, dan sebagainya (bab 8-9). Yesus membuat pengecualian terhadap adat kebiasaan orang Yahudi yang mengeksklusikan dan memecah belah pribadi manusia karena ketakutan dan kurangnya iman. Ia secara jelas menyatakan apa yang diperlukan orang untuk mengikuti dia. Orang mesti punya keberanian untuk mengabaikan banyak hal. Perikop yang diambil hari ini adalah contoh mengenai hal itu.

Murid-murid pertama Yesus adalah para nelayan dan yang sekarang ini dikisahkan adalah sosok pemungut pajak yang sangat dibenci orang Yahudi saat itu. Ia dianggap pendosa dan najis, tetapi anehnya, nama Matius sendiri konon berarti karunia Allah atau yang diberikan oleh Allah. Pendosa kok dibilang hadiah dari Allah? Kapan situasi keberdosaan itu berubah jadi hadiah Allah? Saat si pendosa meninggalkan segala-galanya demi mengikuti Yesus itu (sekali lagi bukan soal mengikuti agama A B C D E!). Mengikuti Yesus memang mengandaikan orang membuat real break terhadap banyak hal, bahkan sumber penghasilan sekalipun. Itu mengapa tindak mengikuti Kristus menjadi kontroversial dan dalam arti tertentu revolusioner, sampai pada saat Matius menuliskan injil pada paruh kedua abad pertama Masehi, tetapi juga barangkali sampai sekarang.

Pertanyaan orang Farisi didengarkan Yesus dan ia menjawab dengan dua cara. Pertama, common sense: orang yang merasa diri sehat (tak mengakui diri sakit), takkan merasa butuh dokter. Kedua, dari Kitab Suci: “Pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasih dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” Yesus tidak menerima argumentasi orang-orang Farisi yang berasal dari ide sesat mengenai Hukum Allah. Belas kasih lebih penting daripada kemurnian legalistik (bdk. Hos 6, Yes 1) justru karena apa yang legal itu semestinya didasarkan pada belas kasih. Ngeri dah kalau hukum dibuat untuk membentengi kaum lintah darat wakil rakyat yang korup!

Ya Tuhan, semoga belas kasih-Mu mentransformasi hidupku sebagai pendosa yang Kaupanggil mengikuti-Mu. Amin.


PESTA S. MATIUS (PENGINJIL)
(Senin Biasa XXV B/1)
21 September 2015

Ef 4,1-7.11-13
Mat 9,9-13

2 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s