Masalah Keluarga Yesus

Ini lanjutan posting beberapa hari lalu soal Yesus yang sebetulnya juga punya masalah yang jauh lebih fundamental daripada aneka masalah yang dimiliki pengikut-pengikutnya. Kalau di situ disodorkan masalah kesenjangan paham antara Yesus dan murid-muridnya, dalam teks Injil hari ini tersirat problem Yesus dan keluarganya. Kadang kala keluarga membantu orang untuk menjalankan misi panggilan untuk partisipasi dalam masyarakat, kadang pula menghambat. Itu tak hanya terjadi pada kita (yang umumnya disebabkan oleh konflik kepentingan pribadi), tetapi juga pada keluarga Yesus.

Keluarga Yesus mungkin datang dari Nazaret ke Kapernaum, yang berjarak sekitar 40 km. Ibunya ada di situ, tetapi tak bisa langsung berjumpa karena banyaknya orang. Maka, paling gampang ya titip pesan berantai, “Ibu dan saudara-saudaramu berada di luar, ingin bertemu denganmu.” Menurut Injil Markus, mereka bukan cuma mau ketemu, melainkan ingin membawanya pulang ke rumah (Mrk 3,32). Mereka pikir Yesus ini gila (Markus 3:21). Mungkin juga mereka takut situasi buruk menimpa mereka karena patroli orang-orang Romawi di wilayah jajahan yang efektif menumpas gerakan pemberontak (bdk. Kis 5,36-39). Nazareth yang di pegunungan itu kiranya lebih aman daripada kota Kapernaum.

Tanggapan Yesus dalam teks singkat hari ini jelas: “Ibuku dan saudara-saudaraku adalah mereka yang mendengar Sabda Tuhan dan melaksanakannya.” Dalam Injil Markus deskripsinya lebih konkret: Ia melihat kepada orang-orang yang duduk di sekeliling-Nya itu dan berkata: “Ini ibuku dan saudara-saudaraku! Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudaraku laki-laki, dialah saudaraku perempuan, dialah ibuku.” (Mrk 3,34-35 ITB) Yesus memperluas keluarga dengan cara yang berbeda dari yang dilakukan kebanyakan orang! Pada masa hidup Yesus, di tengah situasi terjajah, sebagian besar orang terperosok dalam nasionalisme sempit, mencari selamat sendiri-sendiri dalam naungan keluarga.

Obsesi terhadap masalah keluarga ini menghambat orang untuk membuka perspektif dan menuangkannya dalam hidup komunitas. Supaya Kerajaan Allah terwujud, orang mesti melampaui batas sempit keluarga kecil yang diikat oleh relasi darah dan daging. Akan tetapi, perluasan keluarga itu juga tidak dilandaskan semata pada kesukaan, hobi atau ideologi yang sama. Kita tahu sendirilah bagaimana sentimen kelompok hobi ini pada saat tertentu menindas kepentingan bersama.

Yesus tidak menciptakan komunitas penunggang perahu atau kelompok hiking di seputar Galilea. Tentu ia tidak melarangnya! Ia juga tak mungkin menyangkal ibu dan saudara-saudaranya. Akan tetapi, yang pokok buat dia ialah apapun komunitasnya, apapun hobinya, apapun ideologinya, semuanya mesti dikonfrontasikan dengan tolok ukur Keluarga Allah: mendengar dan melaksanakan Sabda! Maka, ikatan keluarga pun baru ada maknanya kalau memenuhi tolok ukur tadi. Begitu juga komunitas hobi, pertemanan, proyek, dan sebagainya. Ini bukan semata untuk memenuhi kepentingan diri, melainkan untuk merealisasikan proyek keselamatan Allah (wuih…. ngeri amir).

Mendengar Sabda doang dah banyak banget jumlahnya. Kelihatan kalau ada tukang khotbah kaliber internasional. Mendengar Sabda dan mengkoar-koarkannya di sana sini juga relatif banyak. Hitung saja jumlah orang yang dilatih untuk jadi tukang kotbah. Yang masih langka justru orang yang mendengar dan mengoperasikan Sabda itu lewat pikiran, perkatan, dan perbuatannya.

Ya Tuhan, semoga aku semakin terampil mengatasi kesenjangan antara Sabda-Mu yang kudengar dan kehendakku yang lemah ini. Amin.


HARI SELASA BIASA XXV B/1
22 September 2015

Ezr 6,7-8.12b.14-20
Luk 8,19-21

Posting Tahun Lalu: Otak dalam Cinta?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s