Apa Enaknya Kerja?

Bacaan hari ini kiranya juga menjelaskan bahwa surga itu tak mungkin dipahami dengan pandangan deterministik ekonomi, misalnya. Orang perlu mengubah sikap dan cara pandang ekonomisnya untuk benar-benar mengalami nuansa surgawi itu. Dulu Seymour Martin Lipset menebarkan pesona bahwa demokrasi itu bergantung pada kesejahteraan ekonomi. Semakin ekonomi membaik, semakin suatu negara demokratis. Argumentasinya sangat logis, tetapi kenyataannya gak segampang itu karena kenyataan hidup ini memang sangat multidimensional sehingga pendekatannya juga mesti bersifat interdisipliner.

Lha, kalo’ kenyataan yang mau disoroti itu soal yang berbau-bau surgawi, tentu aja gak cukup hanya memakai pendekatan duniawi; dibutuhkan juga pendekatan surgawi yang ‘beneran’. Seorang teman kesal karena teman kantornya bekerja ala PNS zaman dulu (entah zaman sekarang bagaimana): gaji sewokeh-wokehnya, kerja sewoles-wolesnya! Tak hanya itu, lebih menjengkelkan lagi teman kantor itu memfitnahnya. Teman ini pun berceloteh, “Semoga dia dapat karma dari Tuhan. Aku yakin Tuhan maha adil!” Di rumah pun ia bisa punya masalah dengan tetangga dan mengucapkan doa yang kurang lebih sama: karma dari Tuhan akan menjadi balasannya!

Macam apa itu keadilan Tuhan? Apa keadilan-Nya bisa dikerangkeng pada gagasan ekonomi-politik-hukum-kultural mutakhir kita? Saya rasa tidak, karena konon rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku (Yes 55,8)! Orang beriman justru dituntut untuk mewujudkan ‘karma Tuhan’ itu dalam kerjanya yang berbuah, bukan menyumpah-nyumpahi orang lain supaya kena balasan setimpal.

So, kalau kerja cuma dimengerti dalam kerangka ekonomi, barangkali malah mengantar orang pada iri hati, sumpah serapah dan sikut-sikutan!

Diperlukan horison makna yang lebih luas sehingga kerja benar-benar membahagiakan. Kebahagiaan, seperti surga, tak bisa dibeli seperti partai politik, misalnya. Apa horison itu? Kalau dari sudut kerohanian ya kerja sebagai partisipasi (bagian) dalam kerja penciptaan Allah sendiri. Bagaimana horison itu bisa muncul? Dalam klip sederhana itu, dari mana datangnya ide orang untuk keluar dari diri sendiri dan memikirkan kepentingan orang lain atau kepentingan bersama lebih dulu?

Itulah belas kasih, compassion, yang dalam cara pandang umat beriman bukanlah kekuatan intelektual manusia, melainkan rahmat Tuhan. Kerja dengan kerohanian ini tentu melampaui aneka ketidaknyamanan, kejengkelan, kemarahan, dan sebagainya. Akan tetapi, dalam terang rahmat itu lama-kelamaan orang enjoy dengan apapun pekerjaannya, bagaimanapun disiplinnya, seberapapun bayarannya.

Mbok ya kami diberi rahmat itu, duh Gusti, dan tidak jatuh dalam godaan untuk membayar-membeli apa-apa saja yang kami kira merupakan sumber kebahagiaan kami!


MINGGU BIASA XXV A/2
21 September 2014

Yes 55,6-9
Flp 1,20-24.27
Mat 20,1-16a

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s