Jakarta – Indonesia pp

Seorang capres (pernah) disoroti sebagai orang yang mencla-mencle, ingkar janji,  dan sorotan ini dijadikan landasan untuk menentang pencapresannya: urus dulu Jakarta sampai tuntas sebelum menuruti ambisi jadi presiden Indonesia! Paham di balik kritik ini sebetulnya hidup di banyak kepala orang Indonesia, dan rupanya mentalitas yang dibangun di dalamnya itu justru menjadi sasaran revolusi mental, yang secara implisit ditegaskan dalam doa Bapa Kami. Loh, kok bisa ik, apa hubungannya?!

Seperti empat dari 10 Perintah Allah menyangkut kewajiban orang terhadap Tuhan, dan enam lainnya terhadap sesama, demikian juga doa Bapa Kami memuat tiga petisi yang ditujukan bagi kemuliaan Tuhan (nama Tuhan dimuliakan, kerajaan-Nya didatangkan, kehendak-Nya dijadikan) dan tiga petisi bagi kepentingan manusia sendiri (rezeki diberikan, kesalahan diampuni, dijauhkan dari godaan atau kalau sudah terlanjur masuk dalam godaan, dibebaskan dari yang jahat).

Apa hubungannya doa Bapa Kami dan revolusi mental? Ini soal titik tolak, titik berangkat, dan sudut pandang. Trayek angkutan Jakarta-Yogyakarta pp tentu jelas: berangkat dari Gambir sampai Tugu atau Lempuyangan, lalu kembali ke Gambir atau Jatinegara atau Stasiun Kota. Lha, kalau trayek Jakarta-Indonesia pp? Dibutuhkan cara pikir yang berbeda untuk memahaminya: Jakarta diletakkan sebagai bagian dari Indonesia. Revolusi mental menuntut orang untuk berpikir dalam konteks yang jauh lebih luas, lebih global.

Doa Bapa Kami juga menuntut orang untuk mencari Kerajaan Allah terlebih dahulu, sebagai sebuah bonum commune, bukan karena tak peduli pada kebutuhan sendiri, melainkan justru supaya kebutuhan sendiri dan kebutuhan pihak lain terjamin! Doa Bapa Kami tidak menyodorkan metode untuk mencari kenyamanan diri sendiri baru setelah itu bisa melayani orang lain atau memuliakan Tuhan. Bayangkanlah, jika Jakarta hebat, belum tentu wilayah timur Indonesia hebat; tetapi jika Indonesia hebat, tentu Jakarta dan wilayah timur juga hebat! (Loh…kampanye nih? Dibayar berapa, Romo?)

KebersamaanDoa Bapa Kami memang memuat suatu revolusi mental: mengajak orang untuk tidak pertama-tama berpikir picik mengenai kebutuhannya sendiri dulu (karena pastilah konflik dengan kepentingan orang lain), melainkan berpikir luas mengenai kesejahteraan bersama yang pada gilirannya pasti memberikan keuntungan untuk diri sendiri juga! Revolusi mental dalam doa ini tidak hanya berlaku bagi mereka yang sudah mapan, tetapi bahkan juga bagi mereka yang masih struggle untuk survival!

Ayo berevolusi mental!


KAMIS BIASA XI A/2
19 Juni 2014

Sir 48,1-14
Mat 6,7-15

6 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s