Latihan Doa 25: Hidup berkeluarga

1. Persiapan Doa (5-15 menit)

Memilih (baca semua secara sepintas lalu memilih salah satu yang dianggap menyentuh hati), menyiapkan bahan doa:
Luk 2,22-40 (Yesus dipersembahkan di kenisah)
Kol 3,12-21 (Damai Kristus mesti meraja di hatimu)
Kej 2,18-24 (Tidak baiklah manusia itu sendirian)
Tob 8,4-9 (Doa pengantin baru)
Mencari tempat doa yang kondusif, menonaktifkan apa saja yang bisa mendistraksi kegiatan doa.
Mengambil posisi yang paling kondusif untuk berdoa (duduk tegak, bersila, telungkup… tapi mungkin posisi ini nantinya membantu orang untuk tidur)

Doa persiapan:

Tuhan Yesus, aku mohon rahmat pemahaman dan penghargaan mendalam terhadap panggilanku sebagai pribadi yang hidup dengan status berkeluarga dengan menyadari bahwa panggilan Tuhan tidak hanya bagi para imam atau kaum religius tetapi juga bagi awam yang menikah seperti aku.

2. Doanya sendiri (20-60 menit)

  • Santo Yohanes Krisostomus pernah mengatakan bahwa rumah orang Kristiani adalah sebuah Gereja miniatur. Bagaimana rumah dan keluargaku sungguh merupakan Gereja miniatur?
  • Langkah-langkah konkret apa yang telah kuambil untuk sungguh membangun Gereja mini di rumah?
  • Aspek-aspek hidup keluarga Kristiani mana yang kuanggap paling berharga (misalnya komitmen kepada suami/istri seperti komitmen Kristus, relasi kasih dengan anak-anak, peran sebagai pencari nafkah, guru bagi anak-anak, dan sebagainya)? Lihatlah aspek-aspek ini dan ambil waktu untuk menanamkannya dalam hati.
  • Kapan sajakah aku merasa paling autentik sebagai seorang suami dan ayah atau sebagai seorang istri dan ibu bagi keluargaku?
    Seperti apakah momen-momen itu?
    Apa  yang kulakukan saat itu?
    Nilai-nilai apa yang waktu itu kuperjuangkan dan kuhayati?
    Ingat-ingatlah kembali masa itu dalam suasana doa.
  • Ada ungkapan yang berbunyi “Keluarga yang berdoa bersama adalah keluarga yang tinggal bersama”.
    Apakah aku berdoa sebagai keluarga bersama-sama?
    Apakah aku makan dan berbagi waktu kualitatif sebagai keluarga bersama?
    Sekarang ini dalam hidup keluargaku, apa lagi yang dapat kulakukan untuk memupuk kebersamaan dalam keluargaku?
  • Rumus perkawinan Kristiani memuat ungkapan “dalam untung dan malang”. Apa sajakah yang merupakan bagian ‘untung’ dari komitmen perkawinanku? Apa yang menjadi bagian ‘malang’ dari komitmen perkawinanku? Mengapa begitu?

Melakukan wawancara batin

Mengimajinasikan Kristus yang bergantung di salib dan dengan jujur bertanya pada diri sendiri:
apa yang sudah kuperbuat untuk Kristus?
apa yang sedang kulakukan bagi Kristus?
apa yang akan kulakukan untuk Kristus?
Dialogkanlah hal itu dengan-Nya: Gereja miniatur, nilai kebersamaan, dinamika komitmen perkawinan.
Mohon berkat
Allah dan akhiri dengan rasa syukur yang tulus atas sentuhan Allah dan rahmat penghiburan, dengan doa Bapa Kami atau Jiwa Kristus atau Salam Maria.

3. Refleksi (5-15 menit)

Mencatat poin-poin penting dalam proses doa:
(1) perasaan-perasaan sebelum doa, pada saat doa, dan setelah selesai doa
(2) insight yang diperoleh dari doa tadi (baik yang bersifat informatif intelektual maupun spiritual)
(3) niat atau dorongan-dorongan yang muncul setelah doa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s