Jokowi – Jeremiah – Jesus

Jokowi tentu bukan presiden termuda bagi bangsa Indonesia, tetapi menilik usianya dan tanggung jawab yang dipikulnya, dia juga tak bisa disebut tua (meskipun punya pengalaman sebagai pebisnis, walikota, dan gubernur). Jokowi adalah simbol orang muda yang terpanggil menjadi pemimpin dan memiliki kesiapsediaan sebagaimana diminta Tuhan dari Nabi Yeremia: Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapapun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan (Yer 1,7).

Tulisan ini tak punya asumsi bahwa Jokowi pergi umroh beberapa saat sebelum pelaksanaan pilpres 2014 dalam rangka pencitraan. Ia sungguh menyadari bahwa jabatan presiden adalah mandat yang berasal dari kedaulatan rakyat sekaligus panggilan dari Tuhan sendiri. Karena itu, kepasrahannya kepada Allah yang mahabesar tentu menjadi modal kerohanian yang baik dan kemenangannya sebagai presiden sebetulnya adalah manifestasi kehendak rakyat yang menginginkan perubahan.

Jokowi pinisi
Menarik, Jokowi memberikan pidato kemenangannya di atas kapal pinisi di Sunda Kelapa. Bacaan Injil hari ini menyodorkan Yesus yang memberikan pengajarannya di atas perahu. Yesus memberikan pengajaran dalam perumpamaan dan kali ini yang diambil untuk bacaan dalam Ekaristi adalah perumpamaan mengenai penabur: Sabda Kerajaan Allah bisa bertumbuh baik kalau tanahnya subur. Dengan kata lain, Yesus mengundang para pendengarnya untuk mengupayakan hidup mereka sebagai sarana atau kondisi yang baik supaya kehendak Allah terwujud dalam hidup manusia.

Tanah subur yang disodorkan oleh Jokowi dalam pidato kemenangannya ialah kebersamaan sebagai satu bangsa: semangat gotong royong itulah yang akan membuat bangsa Indonesia bukan saja akan sanggup bertahan dalam menghadapi tantangan, tapi juga dapat berkembang menjadi poros maritim dunia, locus dari peradaban besar politik  masa depan.

Maritim bagi Jokowi adalah simbol perekat bangsa yang tersebar di aneka pulau dan dia sungguh menginginkan Bangsa Indonesia memulai mentalitas yang baru untuk menghasilkan buah berlimpah. Mencari keselamatan diri sendiri berisiko pada konflik kepentingan. Sebaliknya, fokus pada kepentingan bersama justru pada gilirannya menguntungkan kepentingan sendiri. Tak heran, Jokowi mengajak bangsa ini untuk meninggalkan atribut kampanye dan kembali memenuhi panggilan tugas masing-masing sebagai sebuah gerakan bersama.

Semoga presiden terpilih ini tetap fokus, sederhana, jujur, dan rendah hati. Banyak doa untuk beliau dan juga untuk yang ulang tahun, haaaa….


RABU BIASA XVI
23 Juli 2014

Yer 1,1.4-10
Mat 13,1-9