Receptive Heart

Omong-omong soal kebangkitan badan, siapa yang mau percaya ya? Orang-orang Korintus melontarkan dua pertanyaan: (1) gimana n dengan kekuatan apa kebangkitan bisa terjadi dan (2) kalo orang bangkit, body umur berapa jadinya yang dibangkitkan, waktu umur 80 tahun, 17 tahun, atau waktu separuh umurnya di dunia ini? (Trus gimana nasib yang dikremasi? Jadi hujan abu?) Paulus menjawab santai: hai bego’, apa kamu kira kita ini menaburkan bonsai-bonsai pohon jagung, duren, dan lain-lain supaya pohon-pohon itu berbuah? Itu mah namanya cangkok, Bray! Menabur benih itu ya menabur benih ‘mati’. Nah, gimana mungkin benih ‘mati’ kok malah bikin muncul tanaman baru? Ya jelas karena kekuatan ilahi yang memberinya kehidupan, bukan? Kekuatan ilahi menemukan caranya sendiri untuk menghidupkan yang mati.

Begitu pula berlaku untuk manusia. Allah mampu mempertahankan materi penyusun manusia (beberapa jenasah orang dari penjuru dunia masih bertahan tak membusuk, apapun background agamanya; gak usah heran plonga-plongo deh, biasa aja. Allah bisa bikin yang seperti itu) tetapi Ia lebih sering membiarkan materi itu hancur. Orang mesti ingat bahwa materi benar-benar bisa hancur, meskipun tak perlu dipahami sebagai kebinasaan. Begitulah dalil sains bahwa materi tak dapat diciptakan dan tak dapat dimusnahkan. Artinya: manusia tak bisa menciptakannya, maka tak bisa memusnahkannya; bagaimanapun caranya!

Apa yang memungkinkan materi itu tak bisa dimusnahkan? Ya daya ilahi tadi! Nah, kalau kemudian kebangkitan terjadi pada materi ini, suka-suka daya ilahi itu kan mau menampilkan materi yang mana? Tapi ya suka-suka daya ilahi itu mesti punya orientasi ilahi juga. Karena itu, tak perlulah kebangkitan dan penampakannya kita kerangkeng dalam imajinasi liar kita: tak sangguplah kita. It’s beyond our capacity.

Insight itu bisa menerangkan perumpamaan Yesus mengenai penabur. Ini bukan perumpamaan tentang talenta, bakat, IQ seseorang. Ini adalah soal sifat reseptif hati orang terhadap daya ilahi tadi. Hanya jika hati orang reseptif terhadap Sabda Allah, ia mampu mengarahkan materi pada kebangkitan, yaitu menyebarnya kehidupan ke seluruh sudut materi. Ia tidak berpikir,”Wah ini bagus buatku, biar kusimpan sendiri dan orang lain tak usah tahu.” Ia peduli pada budaya kehidupan,”Ini bagus buatku, kiranya bagus juga untuk orang lain, maka biar aku share saja.” Bisa jadi itu toh luput, tapi dengan kesadaran bahwa yang ilahi menemukan caranya sendiri untuk menghidupkan yang mati, mengapa kita mesti takut dan khawatir?

Andreas Kim Taegon, Paulus Chong Hasang dan kawan-kawannya yang menjadi martir di Korea memberikan teladan itu. Mereka mengatasi ketakutan dan kekhawatiran akan matinya badan fana karena percaya bahwa daya ilahi terus bekerja! Mau contoh yang lebih dekat? Carilah tokoh politik yang banyak diserang politikus busuk!!!


SABTU BIASA XXIV
Peringatan Wajib Santo Andreas Kim Taegon dkk
20 September 2014

1Kor 15,35-37.42-49
Luk 8,4-15

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s