Terbalik Neng

Pernah dengar atau baca nama Kevin Carter? Saya yakin Anda pasti pernah, karena baru saja Anda membacanya. Dia seorang fotografer dari Afrika Selatan yang memperoleh penghargaan bergengsi Pulitzer Prize pada tahun 1994 karena foto fantastiknya yang dibuat di dekat feeding center.

Anda sendiri merasakan kekuatan foto ini jika berkenan menatapnya secara teliti. Anak perempuan ini berjuang untuk sampai ke feeding center sementara di belakangnya menanti burung pemakan bangkai. Kevin Carter mengabadikan momen itu dan kemudian mengusir burung itu, tetapi entah apa yang terjadi dengan anak perempuan itu. Konon selama beberapa waktu Kevin duduk di bawah pohon (tentu maksudnya bukan di bawah akar pohon), menangis, mengungkapkan keinginannya untuk memeluk anak perempuannya sendiri (bukan yang kelaparan tadi).

Beberapa bulan setelah ia mendapat Pulitzer Prize itu, ia mati bunuh diri. Konon begini catatan yang ditinggalkannya: I’m really, really sorry. The pain of life overrides joy to the point that joy does not exist… depressed, without phone, money for rent, money for child support, money for debts … money! … I am haunted by the vivid memories of killings corpses anger pain, of starving or wounded children, of trigger-happy madmen, often police, of killer executioners. I have gone to join Ken if I am that lucky.

Tentu saja, who am I to judge! Tak relevanlah menghakiminya sebagai pendosa berat karena mengambil alih peran Allah atas hidupnya. Akan tetapi, bisa kita pahami bagaimana Kevin kehilangan iman, harapan, dan cinta sehingga tak mampu lagi bahkan untuk melihat kemungkinan adanya suka cita di balik derita hidup ini.

Saya hendak menarik perhatian Anda pada bagaimana Yesus berhadapan dengan orang banyak yang terus mengikutinya. Dikatakan dalam teks Indonesia: tergeraklah hatinya oleh belas kasihan karena mereka seperti domba tanpa gembala. Yesus tidak memakai kacamata sosiolog atau wartawan foto untuk memotret orang banyak itu. Ini sama sekali tidak melecehkan kacamata sosiolog dan wartawan foto. Kata Paus Fransiskus, Yesus ini senantiasa memandang dengan kacamata hati, pandangan nurani. Untungnya, dia gak memakai kacamata itu secara terbalik.

Kevin Carter jelas wartawan foto yang handal. Akan tetapi, sebetulnya ia juga punya kacamata hati tadi. Apa buktinya? Ia mengusir burung pemakan bangkai itu. Ia menangis dan sungguh merasakan kerinduan untuk memeluk anak perempuannya selepas melihat ikon tragedi kehidupan di Sudan itu.
Sayangnya, pada suatu titik, ia membalik kacamata nuraninya. Alih-alih melihat tragedi kehidupan sebagai medan untuk menyalurkan cinta Allah, ia lari dari undangan bersama melankolinya. Maksudnya, ia jatuh berhenti pada perasaan melankolisnya, tak bangkit sampai pada tindakan mulia. Nek mung prihatin wae akeh tunggale! Kevin Carter dan kita semua tak harus jadi Santa Teresa dari Kalkuta, misalnya, tetapi pasti ada hal, entah kecil atau besar, yang bisa dibuat supaya cinta Allah itu semakin nyata asal kreatif #lohkokkayakjawabancagub…

Ya Tuhan, mohon rahmat supaya kami dapat menggunakan tragedi kehidupan juga untuk memuliakan nama-Mu dalam tindakan nyata kami. Amin.


SABTU BIASA IV A/1
Peringatan Wajib S. Yohanes de Britto
4 Februari 2017

Ibr 13,15-17.20-21
Mrk 6,30-34

Posting Tahun C/2 2016: Ayo Cari Duit
Posting Tahun B/1 2015: Doa Bukan Pelarian, Brow!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s