Mana Lampunya?

Pernahkah Anda mengendarai mobil dengan kecepatan cukup tinggi saat menjelang senja di jalanan dua arah tanpa divider dan dari arah depan tahu-tahu Anda tersadar ada motor yang ngebut berlawanan arah, mengambil jalur Anda pada jarak 10 meter? Mak tratapmak jegagig dan mungkin mak lampir rasanya. Kenapa baru tersadar setelah jaraknya tinggal 10 meter itu? Bisa jadi karena sedang baperngelamun, atau disirep oleh dukun di persidangan #halah. Saya pernah mengalaminya bukan karena saya ngelamun, melainkan karena lampu motornya tak menyala.

Bisa jadi lampu motornya rusak. Bisa jadi pengendara motornya berpikiran,”Aku toh masih bisa lihat jalanan secara jelas, belum gelap.” Wah, hebat juga lu, Brow, matanya masih awas, tapi lu kagak mikirin gimana orang lain!

Saya kira itulah mengapa beberapa tahun belakangan ini digemakan aturan supaya motor menyalakan lampu utama entah siang atau malam. Ini pasti bukan demi menerangi jalanan di siang hari. Matahari lebih joss untuk itu dan lampu mobil jauh lebih terang daripada lampu motor pada umumnya. Menyalakan lampu itu demi pengendara lain, terutama pengendara mobil, yang bisa luput pandangannya kalau motor yang lebih kecil dari mobil itu tak menyalakan lampunya. Dari kaca spion mobil tidak mudah dipantau gerakan motor (yang bisa secara cepat pindah ke kiri atau ke kanan) di belakang jika lampu motor tak dinyalakan. 

Teks hari ini bicara bahwa orang beriman atau orang beragama yang sejati itu menyadari diri sebagai terang (dan garam) dunia. Ini tak bisa dimengerti dalam kerangka heroik bahwa umat beragama mau menerangi apa saja yang gelap dengan cara pikirnya sendiri, seolah-olah yang tak beragama adalah orang-orang gelap! Sama sekali tidak. Teks bacaan hari ini tidak mengarah ke sana. Dari catatan tambahannya jelas: kalau garam hambar, njuk gimana mengasinkannya dan kalau terang itu disembunyikan, njuk apa gunanya?

Berarti, seperti sudah pernah dibahas tiga tahun lalu, poin utamanya ialah bahwa orang menampilkan jati dirinya yang autentik: Show who you are!  Jati diri orang yang terpaut pada Allah Sang Pencipta, jati diri yang menunjukkan bahwa orang punya relasi afektif dengan Allah, bukan kosmetik kognitif otak-otak.

Kalau mau ditarik konkret ke lampu motor tadi, jelas: bukan soal bahwa lampu itu menerangi jalanan, melainkan soal bahwa lampu itu memungkinkan orang lain tahu bahwa ada motor di sebelah sini atau situ sehingga membantu orang untuk bisa mengambil keputusan yang tepat, mau menabraknya atau menghindarinya #eh… Semakin setiap orang bisa autentik, semakin terwujudlah dunia terang nan gurih, bisa dinikmati siapa saja yang hidup di dalamnya, dan kemuliaan Allah semakin dinyatakan. 

Ya Tuhan, berilah kami kebesaran hati supaya kebesaran-Mu tampak juga bagi sesama. Amin.


MINGGU BIASA V A/1
5 Februari 2017

Yes 58,7-10
1Kor 2,1-5

Mat 5,13-16

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s