Syukur Ramah

Tidak semua orang ramah itu menyenangkan karena bisa jadi keramahannya semata untuk kepentingan dirinya dengan melecehkan orang lain: rajin menjamah, eaaaa….. Semoga anak-anak senantiasa diajari untuk waspada terhadap jenis keramahan ini sehingga di kelak kemudian hari mereka bisa menjaga diri baik-baik.

Teks hari ini menyodorkan banyak orang yang jadi ramah terhadap Yesus. Akan tetapi, meskipun ini keramahan dalam arti rajin menjamah itu, mereka tetap melakukannya sesuai kode etik orang ramah: minta izin dulu pada yang hendak dijamah. Dikatakan dalam teks itu bahwa semua orang yang menjamahnya jadi sembuh. Semua orang itu siapa ya? Orang-orang yang hidup pada awal Masehi di tanah Palestina? Kalau cuma mereka yang sembuh, berarti gak semua orang dongNjuk ngapain ditulis di Kitab Suci kalau cuma mau bilang waktu itu semua orang yang menjamahnya sembuh?

Itu mirip-mirip dengan teman yang hobi sekali bercerita di kantor,”Eh gue kemarin makan di anu enak banget loh.” dan tak pernah sekalipun membawa bukti fisik enaknya seperti apa! Di situ tak ada kabar gembiranya. Padahal, katanya Kitab Suci itu kan Kabar Gembira; gak mungkin dong kabar macam begitu disampaikan pada orang yang kelaparan! Silakan coba dekati orang kelaparan dan beritahukan padanya bahwa makanan anu di anu uenak nannn. Itu pasti bukan Kabar Gembira.

Kabar Gembira itu mesti melampaui ruang waktu tertentu dan karena itu kiranya boleh juga kita coba merefleksikan jamahan apa yang menyembuhkan. Ini jenis jamahan yang melintasi budaya, agama, suku, ras, dan sebagainya. Menjamah apa dong? Menjamah pokok relasi Allah-manusia. Apa itu? Wah… apa ya.

Salah satunya mungkin adalah apa yang disodorkan seorang mistikus Jerman. Dia bilang kurang lebih begini: kalau saja satu-satunya doa selama hidupmu hanyalah ungkapan sederhana ‘syukur dan terima kasih’, kiranya itu sudah cukup. 

Yang sederhana itu biasanya malah sulit. De facto, tak banyak orang bisa bersyukur setiap saat karena kemalasan (akrasia). Orang yang bersyukur tahu benar bahwa anugerah atau karunia itu punya konsekuensi tanggung jawab sosial. Kebanyakan orang gagal memandang kecantikan, kekayaan, kepercayaan, jabatan sebagai medium untuk memuliakan Allah dalam hidup bersama. Males dah, lebih enak juga dengan modal kecantikan terima order model dan duit yang terus mengalir. Orang yang bersyukur juga tak pernah bisa menyombongkan diri (atau sebaliknya, minder) karena membandingkan diri dengan orang lain. Ia menerima diri apa adanya dan dengan itu memberi kontribusi pada pewartaan Kabar Gembira yang sesungguhnya. Begitu kiranya orang menjamah Allah.

Tuhan, semoga syukur kami sungguh terwujud dalam keterlibatan kami untuk membangun dunia yang lebih nyaman dihuni semakin banyak orang. Amin.


SENIN BIASA V A/1
Peringatan Wajib S. Paulus Miki
6 Februari 2017

Kej 1,1-19
Mrk 6,53-56

Posting Tahun C/2 2016: Mau Jadi Dukun?
Posting Tahun B/1 2015: Tersentuh Penderitaan

2 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s