Masih Salam Dua Jari?

Manifestasi roh jahat yang sekarang ini begitu gencar diperangi KPK tentu saja adalah korupsi. Ini bener-bener jahat bin jahanam: jadi bupati, gubernur, menteri, bahkan presiden, dan memanfaatkan posisi itu untuk memperkaya diri atau keluarga atau partai dengan duit dan turunannya yang semestinya menjadi hak seluruh rakyat! Kesejahteraan bangsa dikurangi untuk segelintir orang. Ini kejahatan serius!
Akan tetapi, ada manifestasi roh jahat yang bukan mengurangi, melainkan menambahi sesuatu. Celakanya, kejahatan macam ini justru terjadinya dalam ranah yang semestinya bersih dari kejahatan: agama!

Andaikanlah agama itu punya creed, code, cult dan community yang asal mulanya dimaksudkan untuk mengikat manusia dengan Pencipta. Bukankah ini sesuatu yang luhur? Akan tetapi, keluhuran itu bakal hancur bukan saja karena korupsi terhadap esensi empat elemen itu, melainkan juga karena orang hendak menambahkan sesuatu yang ujung-ujungnya merupakan kepentingan ideologis tertentu.

Contoh sederhana saja. Ada sebagian orang yang gemar melantunkan ratusan atau bahkan ribuan kata dalam doanya. Pada rangkaian doa itu bisa jadi dimasukkan kata-kata ‘roh’, ‘kerahiman Allah’, ‘berkat’, ‘pujian’, ‘nikmat Allah’, ‘rahmat’, ‘cinta’, ‘kesucian’ dan sebagainya tetapi dengan hati yang jernih orang bisa mendengarnya seperti Tuhan mendengarnya: kata-kata dalam rumusan doa itu kering, tak menyejukkan. Hati pendoa itu tulus, tambahannya cenderung bulus, mungkin demi fulus, maunya segalanya mulus. Tapi itu bisa bikin mules yang mendengarnya!

Overload kata-kata itu tak hanya terjadi dalam ranah doa tentunya. Juga refleksi seperti tertuang dalam blog ini bisa jadi bikin mules pembacanya karena inflasi kata-kata [sing nulis wae wis rumangsa mules, hahaha]. Pertanyaan reflektifnya sama: apakah tambahan kata-kata, tambahan aturan, tambahan kebijakan, tambahan pekerjaan, itu semakin memungkinkan orang happy menambatkan hatinya kepada Allah, atau hanya melanggengkan kepentingan ideologis tertentu?

Rom, dari tadi omong kepentingan ideologis terus. Apaan sih kepentingan ideologis itu? Saia juga tidak tahu apa yang saya katakan, hahaha… Paham saya sederhana sekali: Allah itu sedemikian ‘maha’-nya, sehingga tak mungkin dikungkung dalam bilik A B C D. Pun kalau bilik itu adalah agama! Saya tidak pernah mengundang orang untuk mengambil yang baik-baik dari bilik A B C D dan menganyamnya jadi bilik baru. Saya cuma mengatakan bahwa setiap orang mesti waspada supaya biliknya tidak cupet karena status quo.

Orang yang punya kepentingan ideologis, selalu cenderung status quo: Pokoknya waton nomer dua #eeeehhh…. maksud saya, pun kalau orang pilih nomer dua, pilihan itu tidak didasarkan pada pemutlakan status quo. Tetap ada praktik-praktik nomer dua yang mesti dikritisi, yaitu yang tidak memanifestasikan belas kasih Allah sendiri.

Ya Tuhan, mohon rahmat kreatif-Mu supaya setiap pilihan kami senantiasa mengarahkan hati kami pada kemuliaan-Mu di dunia ini. Amin.


SELASA BIASA V A/1
7 Februari 2017

Kej 1,20-2,4a
Mrk 7,1-13

Posting Tahun C/2 2016: Ad Maiorem Diri Gue
Posting Tahun B/1 2015: Citra Skolastika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s