Ad Maiorem Diri Gue

Ada hukum agama yang berbunyi supaya seseorang menghormati ayah dan ibunya. Ada juga hukum agama, satu paket dengan perintah menghormati ayah ibu tadi, yang berbunyi supaya orang menguduskan hari Sabat. Apakah menguduskan hari Sabat (yang oleh orang Kristen dimodifikasi sebagai hari Minggu) dan menghormati ayah ibu itu bertentangan? Tentu tidak, kecuali kalau ayah ibu itu bernama masing-masing Senin dan Selasa (lalu orang bingung sebetulnya yang mesti dikuduskan itu hari Minggu, Senin, atau Selasa). Akan tetapi, kepicikan hati manusia bisa membuat dua hukum itu seolah-olah bertentangan.

Yesus memberi contoh sederhana. Dalam teks Injil hari ini dikutipkan konflik semu yang jadi tameng bagi ahli Taurat dan orang-orang Farisi untuk membenarkan hidup keagamaan mereka. Hidup keagamaan macam apa? Hidup keagamaan yang ritualistik, munafik, fundamentalistik, fanatik, dan ik-ik lainnya yang tengik! Yang dicontohkan Yesus ialah orang yang mau lepas dari perhatiannya kepada orang tua demi menjalankan ritual keagamaan yang dianggap sebagai satu-satunya jalan untuk menghormati hari Sabat. Maka, sori deh, duit untuk berobatnya sudah kupakai untuk beli daging korban; maap ya, dana hari tua bapak-simbok sudah dipakai untuk membangun tempat ibadat yang megah bagi Tuhan. Tuhan kan lebih penting dari manusia!

Hati manusia sebetulnya punya kemampuan membaca bahwa konflik macam itu semu, tetapi ego bisa merenggut kemampuan hati itu sehingga orang bertindak semena-mena atas nama cinta kepada Allah: mulai dari membentak, mengancam, bahkan membunuh orang tua demi keyakinan bahwa Allah mahabesar. Sayangnya, orang lupa pada doa yang diserukan Salomo dalam bacaan pertama hari ini: Sesungguhnya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langitpun tidak dapat memuat Engkau, terlebih lagi rumah yang kudirikan ini. Salomo mendirikan “rumah Tuhan” yang megah untuk beribadat, tetapi sudah dengan kesadaran bahwa Tuhan tak mungkin dikerangkeng dalam rumah seperti itu (komplet dengan tetek bengek aturannya), betapapun megahnya.

Orang perlu jujur pada diri sendiri apakah motif tindakannya sungguh-sungguh Ad Maiorem Dei Gloriam atau, menurut adik kelas saya, Ad Maiorem Diri Gue. Itu memang bisa beda tipis, tetapi orang yang tulus akan tahu sendiri apa yang disasarnya, mana target dan mana konsekuensi. Yang tidak tulus biasanya mengejar atau menghindari konsekuensi, seperti dipersoalkan oleh ahli Taurat dan kaum Farisi hari ini. Yang kecil dibesar-besarkan, sehingga yang besar malah luput dari perhatian. 

Ya Tuhan, mohon rahmat ketulusan hati-Mu ya. Amin.


HARI SELASA PEKAN BIASA V C/2
9 Februari 2016

1Raj 8,22-23.27-30
Mrk 7,1-13

Posting Tahun Lalu: Citra Skolastika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s