Meneladan Guru

Beberapa pembaca meramal posting hari ini menyinggung orang yang keluar dari Mako Brimob (dan mungkin married bulan depan, ciye ciye ciye 😂). Kalimat itu membuat ramalannya self-fulfilled, tetapi percayalah, refleksi dalam blog ini senantiasa berpijak pada teks bacaan yang tersedia di bagian bawah setiap posting. Teks bacaan hari ini mengisahkan bagaimana Guru dari Nazareth dan murid-muridnya berusaha menyingkir dari kerumunan massa, yang terus berdatangan meminta kesembuhan dan kemudian memopulerkan Sang Guru sebagai Anak Allah. Sikap Guru dari Nazareth jelas: gak usah lebay dengan atribut Anak Allah gitulah, belum tentu juga ngerti maksudnya apa; kalaupun merasa ngerti, belum tentu juga betul.

Sebetulnya ada mirip-miripnya dengan BTP sih: punya banyak followers dan ia tidak ingin keluar dari Mako Brimob dengan sambutan para followers itu. Ya sudahlah, biarkan dia tenang kembali ke keluarganya tanpa dicemplungkan ke aneka isu politik dan mari teropong anak Allah yang lain.
Loh, ada berapa toh anaknya Allah itu, Rom? Haiya sebanyak orang yang memperlakukan Allah sebagai sosok Yang Maharahim toh, yang jadi junjungan bagi semuanya tanpa perlu kategori religius bikinan manusia!

Ndelalahnya, kemarin saya dapat video dari medsos, dan saya teruskan di sini. Mengapa saya teruskan? Karena saya percaya itu bukan hoaks meskipun tak jelas siapa pembuatnya. Kalau ternyata itu hoaks, artinya kepercayaan saya salah, baiklah saya akan mengakui kesalahan saya, pun kalau hanya karena kepercayaan keliru itu saya mesti meringkuk di penjara. Saya sudah beberapa kali meringkuk di penjara untuk sekadar stretching. Ini videonya:

 

Meneropong pribadi semacam itu di tengah-tengah masyarakat plural dengan problem yang sangat kompleks ini memang bisa membuat orang terharu. Kok di zaman begini masih ada pemimpin yang bekerja dan sederhana, rendah hati, dan tidak mencemplungkan keluarganya dalam ranah politik? Bukankah posisinya itu jadi incaran banyak orang dan sah saja ia menaruh keluarganya sebagai dinasti penguasa negeri ini?
Begitulah kualitas followers Guru dari Nazareth yang sesungguhnya. Begitulah sejatinya kualitas penjunjung Nabi Muhammad. Begitulah juga sewajarnya karakter pengikut guru-guru iman lainnya. 

Sayangnya, begitu banyak orang yang mengklaim diri sebagai pengikut guru-guru iman yang bertingkah seperti followers dalam bacaan hari ini: membuat viral atribut Anak Allah, tetapi tak menghidupi atribut itu (tidak jadi a friend in deed). Itulah juga mengapa Guru dari Nazareth melarang mereka berkoar-koar.

Video yang saya tempelkan di posting ini tidak saya maksudkan untuk mengatakan bahwa Jokowi manusia sempurna. Dia menampakkan karakter pemimpin, lebih daripada penguasa. Jangan salah, posting ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk mengurangi dukungan paslon PrabU. Saya pribadi sungguh mendukung mereka jadi ca(wa)pres, sampai kapan pun! Boleh dong saya menegaskan sikap: saya mendukung Jokowi sebagai presiden dan mendukung PrabU sebagai capres-cawapres. Jadi, nanti saatnya memilih presiden, inga’-inga’ Anda itu memilih presiden, bukan capres. Kalau Anda memilih capres malah Anda keliru, wong namanya aja pilpres, bukan pilcapres #halah.

Tuhan, mohon rahmat yang memampukan kami meneladan guru-guru iman dalam aneka tarikan kepentingan politis hidup kami. Amin.


KAMIS BIASA II C/1
Peringatan Wajib S. Fransiskus dari Sales
24 Januari 2019

Ibr 7,25-8,6
Mrk 3,7-12

Posting Tahun B/2 2018: Allah Yang Woles
Posting Tahun A/1 2017: Ssst Jangan Brizieq

Posting Tahun C/2 2016: #KamiTidakTakutNaksir
Posting Tahun B/1 2015: Yesus Rada-rada Munafik?

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s