Ssst Jangan Brizieq

Saya bukan penyembah bendera, tetapi melihat bendera merah putih bertulisan bahasa asing dan gambar pedang, berkibar-kibar diiringi lagu Indonesia Raya, itu menyinggung rasa kebangsaan saya. Ini maksudnya apa je? Bukannya malah jadi gambaran bahwa Indonesia Raya, yang dinyanyikan, itu mau dikotori dengan pedang kekerasan, yang digambarkan pada bendera? Ya kalau itu dilakukan di depan markas penjajah kumpeni Belanda dulu sebagai bentuk perlawanan, ini di depan markas kepolisian Republik Indonesia yang sudah merdeka! Saya sih tak sampai berpikir ini soal dosa atau tidak dosa, tetapi maksude opo jal?

Bisa jadi itu memang gak ada maksud dalam konteks kebangsaan. Saya percaya, yang mengibarkan bendera kotor itu bahkan tak tahu menahu soal pasal-pasal yang mengatur etiket penggunaan bendera negara, sebagaimana umumnya orang tak tahu apa yang diperbuatnya. Maka, saya kira maksudnya tidak pertama-tama untuk melecehkan bendera negara, tetapi demi asal brizieq aja, sebagaimana pemimpin besarnya brizieq. Orang waton berkoar-koar, gonggong sana gonggong sini, apalagi setelah gonggongannya bak gayung bersambut, makin menjadi-jadilah brizieqnya. 

Orang brizieq begini, kita tahu, tak punya kedalaman. Njegog (bahasa Jawanya menggonggong) dulu, mikirnya belakangan. Karena bermodal ikut-ikutan, mikir belakangan, pertanggungjawabannya juga terbelakang: mlipir aja atawa kabur dengan tameng mediasi. Apa ada mediasi tanpa ketulusan? Mana ada rekonsiliasi nasional tanpa ‘pengakuan dosa’? Mana bisa integritas ditebus dengan omongan dalam debat? Mana ada rezim korup melahirkan generasi tanpa korupsi? [Loh ini maksudnya apa toh Rom kok jadi menggonggong ke sana kemari? Oh, maaf, sedang baper! Soalnya habis lihat tayangan mantan pimpinan KPK yang omong soal politik dinasti yang bertendensi kuat pada korupsi pada link ini. Omongan ini pasti berasal dari pengamatan akurat juga.]

Bacaan hari ini juga menyinggung soal kebrizieqan ini. Orang sableng dari Nazaret itu, yang bak selebriti terhimpit dalam kerumunan, berusaha melepaskan diri dari begitu banyak orang yang kemruyuk padat merayap. Dari kerumunan orang itu ternyata banyak juga yang kerasukan roh jahat dan apa yang dibuat roh jahat ini? Ia menuntun orang-orangnya jadi brizieq! Lari mendekat kepada tokoh sableng kita dan tersungkur di hadapannya seraya berkata,”Engkaulah Anak Allah!” Apa jawab Yesus? “Sssssst! Jangan brizieq!” Ia dengan keras melarang mereka berkoar-koar mengenai siapa dia karena koar-koar itu kontraproduktif dengan integritas identitas Yesus sendiri (karena orang banyak mengira Anak Allah itu bakal menyelamatkan mereka dari penjajahan kumpeni).

Rupanya ada brizieq yang memanifestasikan kekuatan jahat, yang hendak menggeser fokus orang dari kedalaman hidup pada kedangkalan populis. Brizieq macam ini memang tak perlu diberi kompromi dengan mediasi: mesti ditumpas. Syukurlah, tampaknya lembaga negara bisa memegang kendali atas orang-orang brizieq yang membahayakan semangat kebangsaan majemuk negara ini, orang-orang yang tak bisa menerima (mungkin karena gak ngarti) bahwa being religious is always being interreligious. Apakah orang-orang itu ada di luar sana? Tampaknya tidak. Tiap orang punya brizieqnya sendiri yang dalam kadar tertentu juga berasal dari roh jahat.

Tuhan, mohon rahmat kepekaan supaya kami mampu menguji batin dan memilih hanya yang memuliakan Engkau dan memuliakan kemanusiaan. Amin.


KAMIS BIASA II A/1
19 Januari 2017

Ibr 7,25-8,6
Mrk 3,7-12

Posting Tahun C/2 2016: #KamiTidakTakutNaksir
Posting Tahun B/1 2015: Yesus Rada-rada Munafik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s