Sukurin!!!

Jika sidang Ahok dihentikan karena unyu-unyunya para saksi pelapor dan, sebaliknya, penuntut Ahok dijadikan tersangka akibat brizieqnya itu, apa yang Anda rasakan? Ini baru simulasi perasaan, tetapi sudah cukup jadi indikator keberpihakan. Saya yakin pembaca blog ini akan merasakan aroma positif jika itu tadi terjadi: senang, lega, puas, bersyukur, dan sejenisnya. Saya sendiri merasa begitu.

Pertanyaan selanjutnya. Kalau Anda merasa bersyukur, lega, puas, senang, Anda bersyukur atas apa, lega atas apa, senang atas apanya? Ya senang karena yang brizieq dipenjara dan Ahok bebas dong, Rom, bukankah tadi pertanyaannya kalau Ahok bebas dan si brizieq dipenjara apa yang kita rasakan? Hahaha… bego’ juga ya saya [pancen!]. Akan tetapi, senang karena mendapat nilai A tidak selalu berarti senang atas A-nya sendiri. Orang senang atas seluruh proses yang dijalaninya sampai ia mendapatkan A. Orang senang karena terpilih sebagai tangan kanan Presiden, tetapi yang disyukurinya lebih luas dan dalam daripada itu.

Maapin saya, Pembaca budiman, saya belum bosan mempermainkan sudut pandang, karena memang untuk itulah saya menulis blog dan ini sama sekali tidak gampang. Saya mengundang pembaca untuk kadang-kadang menimbang sudut pandang [dang dang, dang dang, duuuut]. Kalau kita hanya melihat Ahok bebas dan si Brizieq dipenjara, kita cuma melihat simtom, cuma melihat fisik, barangkali cuma memakai satu perspektif hitam putih: Ahok benar, si Brizieq salah. Padahal, bisa jadi ada kesalahan Ahok dan ada kebenaran yang disampaikan si Brizieq

Lah, Romo gak konsisten! Kemarin bilangnya brizieq tanda kedangkalan. Bukankah tak ada kebenaran yang muncul dari kedangkalan? Iya, tetapi itu tak perlu dibekukan. Masih ingat insight bacaan-bacaan menjelang Natal? Allah memakai kerapuhan orang untuk hadir, menyatakan kebenaran-Nya. Saya tidak hendak membela si Brizieq, tetapi menunjukkan bahwa di balik yang fisik ini ada roh, ada semangat, ada daya hidup yang sedang bekerja, mengendali kuda supaya baik jalannya. Syukur bahwa Roh itu terus bekerja dan masih ada orang-orang yang terbuka hatinya untuk bekerja sama dengan Roh itu. 

Ribet amat, Rom, emangnya teks hari ini bicara apa sih? Kisahnya sederhana. Yesus dari Nazaret memilih dua belas murid dan yang paling bontot disebut Yudas Iskariot, yang mengkhianati Yesus. Kok bisa-bisanya orang sableng yang dianggap Tuhan itu memilih murid yang kelak jadi pengkhianat? Katanya Tuhan mahatahu, lha kok pengkhianat malah dijadikan rasul?

Malah jadi jelas persoalannya dong: Allah memilih orang bukan karena status masa depannya, melainkan status masa kininya. Yudas Iskariot juga dipilih supaya tinggal bersama Allah dan mendengarkan Sabda-Nya. Ubyang-ubyungnya dapet, tapi mendengarkan Sabda-Nya enggak. Alhasil, jadilah pengkhianat. Si Brizieq, di lubuk hatinya mungkin tersimpan niat baik, tetapi mungkin tersesat karena Roh yang didengarkannya itu menyesatkan. Si Ahok lagi on fire, tidak atau belum khilaf. Bisa saja ia suatu saat melakukan kesalahan karena tak sinkron dengan Roh kebenaran. So, poin pentingnya bukan bahwa Ahok bebas dan si Brizieq dipenjara, melainkan bahwa sekarang ini makin kentara dampaknya kalau orang bekerja sama dengan Roh Kebenaran.

Ya Allah, semoga kami bertekun dalam Roh Kebenaran di setiap momen hidup bersama. Amin.


JUMAT BIASA II A/1
20 Januari 2017

Ibr 8,6-13
Mrk 3,13-19

Posting Tahun C/2 2016: Baiknya Cinta Segi Tiga
Posting Tahun B/1 2015: Penangkal Selingkuh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s