Ayo Belajar Memanah

Dulu sewaktu masih SMP saya pernah memakai celana panjang seragam SMA dan sendirian masuk kompleks SMA yang semua muridnya itu memakai rok (sedikit) di atas lutut [lha iyalah, mosok pakai rok di bawah lutut]. Begitu saya melewati gerbang sekolah, suara murid-murid yang sebagian adalah anggota marching band terbaik pada masa itu begitu riuh rendah, terutama dari lantai dua dan tiga. Saya tahu teriakan-teriakan itu terarah pada saya, tetapi karena muka saya sudah ditembok, saya tetap saja ngeloyor menyeberangi lapangan sekolah itu. Tak lama kemudian, saya keluar kompleks sekolah bersama siswi-siswi yang mestinya tadi menyoraki saya juga. Ternyata dari dekat, mereka tak seganas waktu ada di lantai dua dan tiga. 

Begitulah. Orang bisa punya wajah yang berbeda penampakannya sewaktu masuk dalam kerumunan massa, bisa jadi garang. Kerumunan massa yang begitu besar jadi anonim, sulit dikenali satu per satu wajahnya dengan mata telanjang. Dalam situasi anonim itu bahkan niat baik pun bisa jadi ancaman dan bahaya bagi yang lain. Bayangkan saja di tengah kerumunan penonton Anda punya niat baik memberi jalan kepada penonton lain yang lebih tua dan untuk itu Anda mundur sedikit dan akibat Anda mundur itu orang yang di belakang Anda menekan yang lainnya dan begitu seterusnya sampai ada anak kecil di belakang sana terinjak penonton lainnya.

Konteks bacaan hari ini, yang cuma dua ayat itu, masih jadi kelanjutan kisah kemarin. Tokoh sableng dari Nazaret dan murid-muridnya itu dihampiri kerumunan massa sedemikian rupa sehingga bahkan untuk makan pun dah gak bisa. Para murid bisa jadi sedikit panik karena mereka hampir tak bisa bergerak lagi. Mereka ada di tengah kerumunan massa yang anonim. Di antara kerumunan itu juga ada yang menganggap tokoh sableng kita ini “out of his mind” alias gila. Betul, Yesus ini memang kehilangan pikirannya karena ia tidak melihat kerumunan massa sebagai kekuatan anonim. Ia melihat orang per orang. Ia masih bisa melihat wajah yang tak anonim dalam kerumunan massa itu dengan hati dan jiwanya masing-masing dan kerumunan tak semengerikan yang dibayangkan para muridnya. 

Kemarin di salah satu media cetak ditampilkan foto Presiden yang siap memanah dan memang beberapa hari lalu status akun medsos Presiden berbunyi begini: Ayo belajar memanah, begitu anjuran Nabi Muhammad SAW. Ini latihan sebelum Kejuaraan Panahan Bogor Terbuka, 20-21 Januari 2017 di Pusdikzeni Kota Bogor. Memanah ternyata tidak mudah ya. Konsentrasi dan fokus itu kuncinya, kata pelatih Rizal BarnardiMemang begitulah, dalam himpitan kekuatan yang anonim, orang bisa panik sendiri kalau memperlakukan yang anonim itu sebagai sosok tak berwajah. Kekuatan impersonal itu bisa jadi membabi buta. [Kenapa sih pakai babi, apa karena menjelang imlek?] Dibutuhkan fokus dan konsentrasi untuk mengurai yang anonim tadi supaya kesangarannya pudar. Betul juga ya, yang tadinya berteriak-teriak begitu brizieqnya, kemudian meminta mediasi atau dialog. Tentu fokus dan konsentrasi tidak hanya berguna untuk memanah. Semoga para pemimpin, khususnya, bisa fokus dan konsentrasi.

Tuhan, mohon rahmat keheningan batin dalam hiruk pikuk kesibukan kami supaya kami tetap tertambat pada-Mu. Amin.


SABTU BIASA II A/1
Peringatan Wajib S. Agnes
21 Januari 2017

Ibr 9,2-3.11-14
Mrk 3,20-21

Posting Tahun C/2 2016: Matinya Nurani Wong Edan
Posting Tahun B/1 2015: Dasar Orang Gila!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s