Bangun, Dah Siang

Ada orang yang senang melihat kesalahan orang lain terbongkar tetapi tak ingin kesalahannya sendiri diutak-atik. Semoga itu bukan ciri umum manusia. Intuisi saya mengatakan momen sekarang ini adalah momen ‘habis gelap terbitlah terang’ itu. Sudah sejak presiden baru di negeri ini memang ada indikasi perubahan yang cukup signifikan, bukan hanya dalam infrastruktur, melainkan juga pembongkaran praktik-praktik gelap masa lalu. Apakah revolusi mental sudah terjadi, gak yakin saya karena mental takkan berubah hanya dalam hitungan setahun dua tahun, apalagi kalau melibatkan nepotisme, kolusi, dan korupsi.

Dari Jokowi(-Ahok) saya belajar bahwa berani tidak identik dengan bertindak tanpa perhitungan, tanpa kebijaksanaan. Kalau cuma demi berani aja, ayam pun bisa melawan macan dan mengukuhkan dirinya sebagai ayam nekad. Memang sih, keberanian tanpa tindakan bisa jadi adalah manifestasi ketakutan dan itu bisa dimengerti dalam konteks seperti yang diulas kemarin: ketika orang berhadapan dengan kekuatan impersonal, anonim. Orang bisa panik atau takut justru karena kekuatan impersonal itu tak bisa diperhitungkannya sendiri. Ada kekuatan-kekuatan di baliknya yang luput dari pengamatan untuk dipertimbangkan secara bijak. Akan tetapi, kalau orang fokus dan konsentrasi, kepanikan dan ketakutan itu bisa diurai dan malah jadi kekuatan.

Tokoh sableng kita, setelah dibaptis di Bethabara, kembali ke Nazaret, temu kangen dengan papah mamahnya, tetapi setelah mendengar berita bahwa pembaptisnya ditangkap penguasa politik, ia turun ke wilayah utara, yang menurut bacaan pertama adalah tempat yang dulu diremehkan karena kekafirannya, tetapi ini jadi momen bahwa “mereka yang berjalan dalam kegelapan telah melihat terang yang besar”. Orang gila dari Nazaret ini sebetulnya menyingkir dari terkaman serigala yang bernama Herodes. Takut karena tak punya senjata? Sulit mengatakan itu karena dia punya misi lain dan malah klop dengan ramalan Kitab Suci: ia pergi ke wilayah Zebulon dan Naftali, di sekitar Danau Galilea. Di situlah ia mendapati murid-muridnya yang hendak dijadikannya sebagai ‘penjala manusia’, yang tak lain adalah ‘menyelamatkan jiwa-jiwa’ orang. Ini runyam jika ditafsirkan sebagai misi mengajak orang untuk beragama Kristen! Jadinya malah rebutan, terpecah-pecah, sebagaimana digambarkan dalam bacaan kedua: aku Kristen golongan Paulus, aku dari golongan Kefas, aku dari golongan Kristus, dan sebagainya.

Beberapa waktu lalu beredar klip video Habib Luthfi yang mengundang pendengarnya untuk mewaspadai keterpecahan (silakan klik di sini kalau ingin mendengarkannya) karena orang kehilangan fokus kepada cinta akan Allah dan nabi-Nya. Hanya orang yang sungguh-sungguh punya kecintaan macam ini dapat berkontribusi pada terang yang mengusir kegelapan bangsa ini. Poinnya bukan bahwa kita senang melihat kebusukan si brizieq atau penunggangnya terbongkar. Ini bukan untuk nyukurin mereka yang korup dihabisi, melainkan untuk bersyukur bahwa terang itu mulai menunjukkan cahayanya, memberi secercah harapan bagi bangsa majemuk ini, meskipun di sana-sini masih juga nongol kaum puritan yang hendak menolak babi, wayang, patung, dan sebagainya karena merasa diri makhluk paling sempurna di hadapan-Nya dan merasa punya privilese untuk jadi hakim bagi dunia akhirat. Om bangun Om, dah siang!

Tuhan, semoga kami berani memancarkan terang-Mu. Amin.


HARI MINGGU BIASA III A/1
Minggu, 22 Januari 2017

Yes 8,23b-9,3
1Kor 1,10-13.17
Mat 4,12-23

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s