Ada Apa dengan Desolasi?

Sejak 30 Desember lalu, selama tiga minggu ini, menu sidebar pada bagian intriguing posts bertengger di baris pertama posting berjudul Desolasi (Kesepian Rohani). Seperti biasa, kalau ada posting yang hitsnya mencapai ribuan, saya malah deg-degan: semoga saya tidak menyesatkan orang. Perkara orang lain tersesat karena tulisan saya sih itu lain soalnya, karena bisa jadi frame yang dipakai pembacanya sendiri sudah sesat, tetapi minimal saya mesti mawas diri kalau-kalau saya memang punya intensi yang didukung oleh struktur tulisan untuk menyesatkan orang. Saya cek kembali posting itu dan rasanya saya memang tak berniat menyesatkan orang, wong itu cuma mengetik ulang apa yang disampaikan dalam Latihan Rohani.

Kepo saya muncul karena dari statistik saya dapati bahwa posting mengenai desolasi itu diakses oleh pengguna IP address berlokasi Malaysia. Biasanya viewers nomer dua berasal dari Amerika tetapi dalam tiga minggu ini urutan kedua adalah viewers dari Malaysia. Saya tidak mendapat feedback dari pembaca sehingga saya tidak tahu juga mengapa dalam tiga minggu ini posting itu sedemikian banyak pengunjungnya. Barangkali, kalau kita mau realistis, hidup ini memang lebih banyak desolasinya daripada konsolasinya. Ya maklum toh, selama orang hidup dalam dunia material, selama itu pula fokusnya bisa terpaku pada dunia material itu sendiri; senantiasa tak mudah reading between the lines; tak gampang pula menyadari atau menengarai gerak Roh, tanda-tanda zaman, dan semacamnya.

Saya tidak bisa berpretensi bahwa bangsa ini sudah jenuh dengan radikalisme atau fundamentalisme. Di Indonesia belakangan ini marak pemberitaan mengenai simtom-simtom radikalisme ini, mulai dari front si brizieq sampai oknum-oknum provokasi pelarangan wayang, bupati, dan sebagainya. Di sini, Islam tercoreng. Akan tetapi, di negeri Om Sam, simtom radikalisme mencoreng Kristen. Hari ini dari media sosial saya dapati rekaman video beberapa orang berspanduk dengan tulisan seperti “Jesus is the way, the truth, and the life” dan kutipan dari Injil Yohanes 3,16 menistakan agama Kristen sendiri dengan menyerang secara verbal (dan fisik) perempuan di gerbang The Islamic Center of Washington.

Betul kata teman medsos ini: Karna ketololan itu universal, lintas suku, ras, agama, tingkat kemapanan ekonomi, tingkat pendidikan, wilayah geografi. Persis ‘ketololan’ inilah yang bisa jadi contoh untuk terminologi yang dipakai Ignasius sebagai desolasi. Ini kiranya bukan ketololan lantaran tingkat IQ yang rendah (tak mungkin ahli perakit bom atau anggota klub teroris bergelar doktor itu ber-IQ rendah), melainkan ketololan untuk menerima kenyataan bahwa dunia ini dari sononya sudah plural. Orang tolol menyikapi pluralitas itu dengan eksklusivisme. Orang munafik menyikapinya dengan sinkretisme. Orang pandai menghadapinya dengan inklusivisme.

Orang eksklusif membawa dalam dirinya tanah subur bagi desolasi. Ia berkoar-koar membela Tuhan tetapi hati dan perbuatannya jauh dari cinta Tuhan. Orang seperti ini begitu yakin bahwa apa yang dilakukannya semata demi kemuliaan Tuhan, tetapi di penghujung hari batinnya selalu kosong, hatinya hampa: tak ada yang dibuatnya untuk kemuliaan sesama, cuma kesenangan diri semata. Memelopori kultwit dengan menyebut nama Allah tetapi hidden agendanya semata keselamatan diri sendiri. Ini adalah contoh orang mengalami desolasi: muaranya diri sendiri.

Apa yang sudah kulakukan, yang sedang kulakukan, dan yang akan kulakukan bagi Tuhan (baca: sesama manusia pencari Tuhan)? Kalau semuanya dijawab tidak ada, itulah desolasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s