Desolasi (Kesepian Rohani)

Sebagaimana konsolasi, desolasi bukanlah sekadar perasaan sedih atau kesepian. Orang bisa saja tampak ceria gembira tetapi sebenarnya sedang mengalami kegalauan, kesepian luar biasa: joged2 clubbing dan pikirannya gelisah, tertawa tetapi hatinya menangis karena penuh ketakutan dan kekhawatiran. Berikut kutipan dari teks Latihan Rohani:

Yang kunamakan kesepian ialah semua kebalikan dari hiburan rohani. Misalnya, kegelapan jiwa, kekacauan batin, dan gerak hati ke arah yang serba hina dan duniawi, bingung menghadapi berbagai bujuk dan godaan yang menyeret orang ke arah hilangnya kepercayaan, tanpa harapan, tanpa cinta; jiw ada dalam keadaan lesu, kendor, sedih, seakan2 terpisah dari Pencipta dan Tuhannya. Karena, seperti halnya hiburan adalah kebalikan kesepian, begitu pula gagasan-gagasan yang keluar dari hiburan juga kebalikan dari gagasan-gagasan yang keluar dari kesepian.

Pada waktu kesepian seperti ini, jangan sekali-kali membuat perubahan, tetapi teguh dan tetap dalam niat dan keputusan yang dipegang pada hari sebelum kesepian, atau dalam keputusan yang dipegang teguh selama hiburan sebelumnya. Karena, jika dalam hiburan terutama roh baik yang memimpin dan memberi pentunjuk kepada kita, dalam kesepian terutama roh buruk yang membimbing kita. Mustahillah kita dengan petunjuk-petunjuknya dapat menemukan jalan ke arah keputusan yang benar.

(Latihan Rohani Santo Ignasius 317-318)

Memang dalam kesepian kita tak boleh mengubah niat-niat semula, tetapi besarlah faedahnya jika kita dengan keras mengubah diri dalam menghadapi kesepian itu misalnya dengan lebih tekun dalam doa, meditasi, lebih keras memeriksa diri dan menambah ukuran laku tapa yang sesuai (LR 319). Misalnya seorang yang sudah baptis dewasa tahun kehilangan gairah hidup dan mulai ragu-ragu dengan sistem kepercayaan Katolik, dalam kelesuan rohani ini ia tak boleh memutuskan pindah agama, tetapi bisa saja mempersering hadir dalam perayaan Ekaristi atau doa devotif; semula hanya setiap minggu dan hari raya, dalam kelesuan rohani menambah frekuensinya jadi dua kali seminggu.

Mengapa orang bisa mengalami kesepian rohani? Ada tiga alasan yang disodorkan Ignatius:

  1. Karena kesalahan orang itu sendiri: malas, terlalu longgar dalam latihan rohani. Kalau untuk apa saja orang malas, energinya tak berkobar-kobar dan tidak memicu apa-apa.
  2. Karena Tuhan mau mencobai orang sejauh mana imannya bertahan jika tidak mengalami konsolasi, atau jangan-jangan imannya pun bersyarat. Contoh kisah Ayub dalam Perjanjian Lama.
  3. Karena orang butuh sarana juga untuk memahami bahwa hiburan rohani bukan aneka disiplin teknis usaha manusiawi. Secara manusiawi, orang akan merasa lega kalau ia sudah menjalankan tugas atau pedoman doa secara disiplin; tetapi kelegaan itu tidak otomatis berarti konsolasi.

Keputusan fundamental hendaknya tidak diambil pada saat orang mengalami desolasi. Masuk akal: kalau orang desolasi, pembimbingnya kan roh jahat. Lha kalau dalam situasi desolasi orang mengubah keputusan, berarti pengubahan keputusan itu datangnya dari bimbingan roh jahat, bukan?

5 replies

  1. Pingback: A Pathway to God

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s